Saturday, June 27, 2026
home_banner_first
BUDAYA

Kerap Dikaitkan dengan Hal Mistis, SNKI: Keris Bagian Penting Peradaban Nusantara

Mistar.idSabtu, 27 Juni 2026 pukul 12.24 WIB
kerap_dikaitkan_dengan_hal_mistis_snki_keris_bagian_penting_peradaban_nusantara

Ketua Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) Sumatera Utara, OK Zulfani Anhar. (Foto: Susan/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID – Stigma masyarakat yang selama ini mengaitkan keris dengan hal-hal mistis dinilai menjadi sebuah tantangan dalam upaya melestarikan salah satu warisan budaya Nusantara tersebut.

Ketua Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) Sumatera Utara, OK Zulfani Anhar, mengatakan bahwa keris sudah menjadi bagian penting dari perjalanan peradaban Nusantara sejak berabad-abad lalu.

Keris, sebutnya, merupakan benda budaya yang punya nilai sejarah, filosofi dan juga simbol kedaulatan para pemimpin di masa lalu.

“Kita sudah mengenal keris di abad ke tujuh, di zaman Sriwijaya. Di situ, selain sebagai senjata pembela diri, keris juga sudah naik level menjadi regalia. Regalia adalah simbol daripada penguasa. Jadi raja, datuk, laksamana, panglima itu semua pakai keris,” katanya dalam Podcast di Mistar, Sabtu (27/6/2026).

Bahkan dalam sejumlah tradisi kerajaan di Nusantara, seorang raja belum dianggap sah sebagai pemimpin jika belum ditabalkan menggunakan keris.

Menurut OK, pemahaman masyarakat yang menganggap keris identik dengan Pulau Jawa perlu diluruskan. Ia menjelaskan bahwa keris hampir ditemukan di seluruh wilayah Nusantara bahkan di Asia Tenggara.

Ia menyebutkan, ketika Sriwijaya menjadi salah satu imperium besar di Nusantara dengan pusat pemerintahan di Sumatera, penggunaan keris sudah dikenal mulai dari Aceh hingga Lampung. Selain itu, keris juga berkembang di Semenanjung Melayu, Thailand, Filipina hingga Champa.

“Itu memang harus diedukasi kembali, bahwasanya keris itu juga menjadi makna simbolik dan regalia di hampir semua suku-suku bangsa yang ada di Asia Tenggara,” tuturnya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan itu menjelaskan bahwa setiap daerah memiliki spesifikasi dan bentuk keris yang berbeda-beda. Mulai dari bentuk bilah hingga warangka atau sarung keris yang disesuaikan dengan budaya masing-masing daerah.

“Orang Toba bilang kerisnya Gajah Dompak, Simalungun mengenal Suhul Gading, Tanah Karo lebih mengenal Tumbuk Lada. Daerah Pantai Timur mengenal keris dan varian-variannya,” kata OK.

Keris Jadi Bagian Diplomasi

Selain jadi simbol kekuasaan, OK menjelaskan bahwa keris juga berfungsi sebagai bagian dari diplomasi budaya. Dahulu, keris sering dijadikan hadiah antar kerajaan sebagai simbol persahabatan dan hubungan diplomatik. Hal itu juga terlihat dari keberadaan keris asal Pulau Jawa di Medan, keris Lombok ada di Pulau Jawa dan lain sebagainya.

Ia menyinggung upaya pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan dalam memulangkan sejumlah keris milik para pahlawan nasional terdahulu yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda.

“Sudah ada sih yang pulang beberapa dan itu pun cukup mahal karena yang jemput minimal presidennya. Itulah bentuk diplomasi budaya tadi. Kenapa nggak wali kota atau bupati? Harus presiden. Itulah uniknya keris,” ujar OK.

Di sisi lain, citra keris yang sering dikaitkan sebagai benda mistis, menurutnya banyak dipengaruhi oleh tayangan-tayangan film maupun media yang kerap menggambarkan keris sebagai atribut dukun atau cerita horor.

“Pahlawan-pahlawan dulu, bawa keris. Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Pattimura, sampai Sultan Hasanuddin semua pakai keris. Bukan dukun mereka. Tapi stigma di film-film itu, di situlah pembentukan keris itu jadi klenik. Bergeser dia,” tuturnya.

OK mengatakan bahwa perubahan cara pandang masyarakat terhadap keris ini perlu dilakukan dengan edukasi yang berkelanjutan. SNKI, sebagai organisasi pelestarian budaya juga disebut memiliki tugas penting untuk memberikan edukasi dan pengembangan budaya perkerisan di Indonesia.

“SNKI sudah sangat luar biasa kontribusinya, khususnya di tahun 2005 ke atas. Di saat keris menjadi warisan budaya tak benda dari UNESCO untuk Indonesia. Tahun 2005 itu mulai gencar-gencarnya,” ucap OK.

OK juga menjelaskan bahwa SNKI merupakan wadah bagi sejumlah paguyuban pecinta keris di daerah, seperti Keris Semenda Melayu di Kota Medan, Serikat Perkerisan Melayu di Batu Bara hingga komunitas-komunitas perkerisan lainnya di Tanah Karo dan Simalungun yang terus melakukan kajian terkait sejarah dan budaya keris. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN