Saturday, June 27, 2026
home_banner_first
BUDAYA

Disdikbud Medan Kenalkan Budaya Keris Lewat Edukasi, Pameran hingga Pemberdayaan Pandai Besi

Mistar.idSabtu, 27 Juni 2026 pukul 15.13 WIB
disdikbud_medan_kenalkan_budaya_keris_lewat_edukasi_pameran_hingga_pemberdayaan_pandai_besi

Pameran festival keris di Semarang, Jawa Tengah. (foto: detik/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Edukasi dan pengenalan akan warisan budaya termasuk keris sudah mulai diperkenalkan kepada peserta didik lewat pendidikan kebudayaan. Hal ini disampaikan Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, OK Zulfani Anhar.

Ia mengatakan pelestarian budaya harus melibatkan banyak pihak mulai dari pemerintah, komunitas, dunia pendidikan hingga media massa. Menurutnya, media berperan penting dalam membangun citra positif budaya lokal.

Ketua Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) Sumatera Utara, itu mencontohkan bagaimana budaya samurai Jepang berhasil dikenal luas karena dikemas melalui film, komik hingga animasi.

Sebaliknya, keris di Indonesia justru lebih sering ditampilkan dalam cerita horor yang memicu persepsi negatif di tengah-tengah masyarakat.

“Kapan lakunya keris kita di luar negeri kalau kita aja menganggap keris tuh hantu. Kenapa Jepang bisa sukses? Karena mistisnya itu disembunyikan. Padahal mistisnya lebih banyak di samurai kan,” katanya, Sabtu (27/6/2026).

Menurutnya, jika budaya keris juga dikemas dalam cerita atau kisah yang menarik dan unik, generasi muda juga akan lebih mudah menerima dan bangga terhadap peradaban bangsanya sendiri.

Selain itu, pihaknya juga tengah mempersiapkan pameran berskala internasional yang dijadwalkan akan berlangsung pada akhir tahun ini.

Pameran yang akan melibatkan sejumlah komunitas perkerisan dari berbagai daerah di Indonesia dan negara serumpun itu, bertujuan untuk memberikan edukasi dan meluruskan persepsi masyarakat terkait keris.

OK menjelaskan saat ini pihaknya tengah melakukan pembenahan dari yang terdasar dulu. Salah satunya adalah menjaga keberlangsungan proses pembuatan keris melalui regenerasi para perajin atau pandai besi.

Para pandai besi, sebutnya, kini banyak yang sudah tidak memproduksi keris dan benda-benda tradisi lainnya lagi. Mereka pandai membuat besi, tapi rata-rata adalah besi untuk bekerja.

“Buat cangkul, arit, pandai mereka. Mereka mempelajari teknik pembuatan keris, pembuatan tumbuk lada, pembuatan suhul gading dan sebagainya itu kan terputus dia. Hanya beberapa kalangan dan jadi eksklusif,” tuturnya.

Kabid Kebudayaan Disdikbud Kota Medan, OK Zulfani Anhar pada podcast Mistar. (foto: Dokumentasi Mistar)

Padahal menurutnya, jika semua pandai besi diajarkan mengenai cara pembuatan produk tradisi, maka masyarakat tidak akan asing lagi terhadap benda warisan budaya terutama keris.

“Makanya kerja budaya ini kerja sama. Kalau sendiri gak bisa. Dengan begitu, kita harapkan keris nanti akan naik kelas. Seperti samurainya Jepang, seperti produk-produk luar yang familiar lah dengan warga kita,” ucapnya.

Hal ini, sebut OK, juga menjadi bagian dari tugas SNKI. Saat ini, SNKI sumut telah mengirimkan kader ke Pulau Jawa untuk mengambil kuliah jurusan metalurgi perkerisan. Dengan harapan, mereka dapat memberikan edukasi pada para pandai besi lokal, dengan teknik dan bentuk yang sesuai dengan karakteristik Sumatera.

“Kalau nggak, nanti hilang. Lama-lama kalau nggak kita kasih kajian yang benar, ya orang akan terus-menerus memandang kekayaannya sendiri adalah momok,” tutur OK.

OK juga berharap masyarakat semakin mengenal keris, mengenal karakteristik senjata lokalnya sendiri. “Harapannya, instansi-instansi sudah mulai berpikir untuk memberikan cinderamata yang sesuai dengan karakteristik kearifan lokal budaya tempatan. Nggak usah lah kasih kaca-kaca lagi. Biar lebih punya nilai,” katanya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN