Pengunjung Soroti Nilai Sejarah Istana Maimun yang Terkikis karena Pedagang

Sejumlah wisatawan sedang bermain sepeda listrik di halaman Istana Maimun Medan (foto:Susan/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Kondisi di dalam Istana Maimun menuai sorotan dari pengunjung yang menilai nilai sejarah Kesultanan Deli kian terkikis akibat ramainya aktivitas jual beli di area dalam istana.
Salah seorang pengunjung, Farid (30), mengaku sudah beberapa kali mengunjungi Istana Maimun sejak pertama kali datang sekitar tahun 2010. Namun, menurutnya, kondisi saat ini berbeda dibandingkan sebelumnya.
“Memang kita datang untuk melihat sejarahnya, tapi sekarang sudah banyak berubah dengan banyaknya pedagang di dalam,” ujar warga Medan Amplas itu kepada Mistar, Selasa (24/3/2026).
Ia menilai ciri khas Kesultanan Deli mulai berkurang dan peninggalan sejarah yang dapat dinikmati pengunjung semakin sedikit.
“Khas kesultanan itu sudah mulai terkikis, peninggalannya tinggal sedikit. Paling yang bisa dilihat sekarang seperti meriam puntung di luar itu saja. Jadi pengunjung merasa kurang puas melihat sejarah yang semakin berkurang ini,” katanya.
Hal serupa juga diakui oleh pemandu wisata Istana Maimun, Ire. Ia menyebut banyak pengunjung datang dengan ekspektasi tinggi terhadap kemegahan dan isi istana, namun merasa tidak sesuai setelah masuk ke dalam.
“Orang-orang berekspektasi tinggi, mengira di dalam akan megah dan banyak yang bisa dilihat. Tapi kenyataannya tidak seperti yang diharapkan karena banyak pedagang dan peninggalan sejarah juga tidak banyak lagi,” tuturnya.
Menurut Ire, tidak semua area istana dapat diakses karena sebagian masih ditempati keluarga keturunan Sultan. Kondisi tersebut membuat ruang eksplorasi pengunjung menjadi terbatas.
Ia mengungkapkan bahwa tidak sedikit pengunjung merasa kecewa karena minimnya objek yang bisa dinikmati secara langsung. “Lebih banyak yang merasa kecewa dibanding senang karena tidak banyak spot atau hal yang bisa dieksplor,” katanya.
Meski demikian, nilai sejarah Istana Maimun tetap dapat diperoleh melalui penjelasan pemandu wisata. Pengunjung umumnya mendapatkan gambaran sejarah dari cerita yang disampaikan oleh guide.
“Mereka mendengar penjelasan dari kami, lalu membayangkan bagaimana kondisi istana di masa lalu. Biasanya mereka tertarik mendengar cerita, tapi untuk menikmati langsung memang terbatas,” ujarnya.
Terkait banyaknya aktivitas jualan di dalam istana, Ire menyebut sebagian besar pedagang merupakan keluarga keturunan Sultan. Hal ini menjadi dilema tersendiri dalam penataan kawasan. “Kalau dilarang salah, tidak dilarang juga jadi masalah. Karena mereka merasa itu hak sebagai keluarga,” ucap Ire.
“Padahal kalau mereka berpikir jauh dan menjaga maruah istana ini, pasti berpikir ‘ini tidak cocok di sini, kita jualan di area bawah saja karena ini istana’,” tambahnya.
Menurutnya, berbagai masukan dari pengunjung sebenarnya sudah disampaikan kepada pengelola, namun respons di lapangan masih menghadapi kendala karena perbedaan pandangan.
Sebagai pemandu wisata, Ire berharap ada penataan ulang di dalam istana agar nilai sejarah dan estetika bangunan tetap terjaga. Ia juga berharap seluruh pihak memiliki pandangan yang sama untuk menjaga keberlanjutan Istana Maimun.
“Harapan saya, semoga istana ini tetap berdiri kokoh dan ke depan bisa ditata lebih baik, sehingga pengunjung benar-benar bisa menikmati keindahan dan sejarahnya,” ucap Ire.
PREVIOUS ARTICLE
Pengunjung Membludak di Istana Maimun Medan Usai Idulfitri 2026












