Okupansi Hotel di Sumut Turun pada Agustus, PHRI: Wajar, Masa Low Season

Potret kamar di Adimulia Hotel Medan. (Foto: Adimulia Hotel Medan)
Medan, MISTAR.ID (8/10/2026) — Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badan Pengurus Daerah (BPD) Sumatera Utara menanggapi rilis data penurunan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel pada Agustus 2026.
Ketua PHRI BPD Sumut Melky Maydiroy Waas mengatakan penurunan okupansi merupakan hal wajar yang berulang setiap tahun akibat berakhirnya masa libur atau peak season.
Memasuki low season pada Agustus hingga September, pengelola hotel biasanya menyesuaikan harga rata-rata harian dengan berbagai promo.
Menurut Melky, kondisi operasional perhotelan di Sumut masih stabil dan kondusif. Penurunan yang terjadi belum membahayakan usaha perhotelan.
"Namun, ini bisa jadi peringatan dini untuk melakukan efisiensi biaya operasional. Kita perlu mengoptimalkan Food and Beverage (F&B) dan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) untuk menutupi penurunan margin kamar," katanya kepada MISTAR, Kamis (8/10/2026).
Ia menjelaskan penurunan cukup dalam pada hotel bintang lima dipicu jeda kegiatan korporasi, instansi pemerintah, dan konferensi sepanjang Agustus. Segmen tersebut biasanya kembali meningkat pada kuartal IV.
Selain itu, terjadi pergeseran segmentasi pasar. Konsumen lebih memilih hotel bintang tiga dan empat yang harganya lebih bersaing.
Frekuensi perjalanan pasca-libur sekolah yang berkurang paling terasa pada hotel bintang lima yang biasanya diisi tamu dengan daya beli tinggi.
"PR terbesar pariwisata Sumut adalah rendahnya rata-rata lama menginap. Di lokasi ekowisata kecil seperti Bukit Lawang dan Tangkahan, tamu bisa menginap empat hingga lima hari. Sementara di Kaldera Toba yang menjadi destinasi unggulan, wisatawan tidak menginap lama karena minim atraksi dan aktivitas," ujarnya.
Kota Medan yang masih menjadi daerah transit membuat durasi menginap sangat singkat. Kondisi itu membuat beban biaya pergantian kamar (turnover cost) membengkak dan menekan belanja wisatawan.
Melky menyebut langkah penguatan struktural yang didorong PHRI Sumut adalah mengatasi ketimpangan konektivitas antardestinasi yang menjadi kendala mobilitas.
Menurutnya, paket pariwisata terintegrasi dan penguatan kalender acara di Medan serta daerah penyangga seperti Kaldera Toba, Dataran Tinggi Karo, dan Langkat penting untuk menahan wisatawan agar menginap lebih lama.
"Kita harus mengoptimalkan rantai pasok lokal dan UMKM dengan menghadirkan culinary experiences atau gastro tourism dan penguatan ekonomi kreatif. Sinergi antar pemangku kepentingan sangat dibutuhkan untuk menciptakan rencana perjalanan wisata baru, termasuk menggagas Coffee Trail in North Sumatra," katanya.(hm02)
PREVIOUS ARTICLE
Wisatawan di Beijing Buru Ratusan Ulat Agar Dapat Hadiah

















































