Warga Kecewa Dua Tahun Kerusakan Jembatan Sosornangka Samosir Tak Kunjung Diperbaiki


Kondisi tanah amblas di Jembatan Aek Mual-Sosornangka yang menghubungkan Desa Habeahan Naburahan dengan Dusun Sosornangka. (f:pangihutan/mistar)
Samosir, MISTAR.ID
Jembatan Aek Mual-Sosornangka yang menghubungkan Desa Habeahan Naburahan dengan Dusun Sosornangka, Kecamatan Sianjur Mulamula, Kabupaten Samosir, mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang lebih dari dua tahun lalu.
Hingga saat ini, jembatan tersebut belum diperbaiki, sehingga membuat kendaraan roda empat tak bisa melintas. Warga pun mulai kehilangan harapan.
Amrin Sagala, salah satu warga setempat, mengungkapkan kondisi jembatan semakin memburuk seiring waktu. Menurutnya, selain jembatan utama yang rusak akibat banjir bandang, kini Jembatan Sosornangka-Habeahan juga mengalami amblas, menambah kesulitan bagi warga dalam beraktivitas sehari-hari.
"Kami benar-benar kesulitan. Jembatan ini adalah akses utama kami, tapi sekarang keadaannya semakin parah," ujar Amrin, Kamis (3/4/2025).
Kondisi ini, lanjut Amrin, tak hanya berdampak pada mobilitas warga, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran besar terkait keselamatan pengguna jalan. Ia mengatakan warga takut sewaktu-waktu jembatan bisa ambruk sepenuhnya, yang dapat menyebabkan kecelakaan berakibat fatal.
"Kami hanya bisa berharap tidak ada korban sebelum jembatan ini benar-benar diperhatikan," ucapnya.
Amrin juga mengungkapkan, warga mulai merasa putus asa akibat ketidakpedulian pemerintah. Ia bahkan menyatakan bahwa beberapa warga berpikir untuk meninggalkan Dusun Sosornangka karena akses yang semakin sulit.
"Kami ini bukan tidak ingin bertahan, tapi bagaimana kalau kondisi terus begini? Apakah kami harus meninggalkan dusun yang sudah menjadi tempat tinggal kami selama ini?," katanya dengan nada kecewa.
Namun, kecintaan terhadap tanah kelahiran dan keluarga membuat warga tetap bertahan, meski dalam keadaan sulit.
Menurut Amrin, warga berusaha mencari cara sendiri agar tetap bisa menggunakan akses tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah bergotong royong membangun jembatan darurat.
Pasca kejadian banjir bandang, warga berinisiatif membangun jembatan sementara menggunakan batang kelapa.
"Awalnya kami hanya berniat membuat jembatan ini untuk beberapa minggu saja, tapi sudah lebih dari dua tahun jembatan darurat ini masih digunakan," tutur Amrin, seraya menambahkan bahwa kondisi jembatan darurat itu kini juga mulai lapuk dan rawan roboh.
Ketiadaan perhatian dari pemerintah membuat warga kecewa. Menurut Amrin, sudah banyak keluhan yang disampaikan, baik melalui musyawarah desa maupun aspirasi yang disampaikan ke tingkat kecamatan, namun hingga kini belum ada tindak lanjut.
"Kami ini juga bagian dari Samosir, tapi kenapa seolah-olah kami diabaikan?," katanya dengan nada getir.
Tak hanya warga yang terdampak, para petani di Dusun Sosornangka juga mengalami kesulitan dalam mengangkut hasil pertanian mereka ke pasar.
Amrin juga menjelaskan bahwa akses jalan yang rusak membuat distribusi hasil bumi menjadi lebih mahal dan sulit. "Kami ini hidup dari bertani, tapi kalau hasil tani tidak bisa dijual dengan mudah, bagaimana kami bisa bertahan?," katanya.
Warga Dusun Sosornangka berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki jembatan tersebut. Mereka mendesak agar ada perhatian lebih terhadap infrastruktur pedesaan yang selama ini seakan diabaikan.
Dengan kondisi yang kian memprihatinkan, masyarakat hanya bisa berharap agar para pemangku kebijakan segera mengambil langkah konkret. "Warga berdoa agar hati mereka tergerak untuk melihat penderitaan kami," ujar Amrin.
Warga berharap bahwa penantian panjang mereka akan berakhir dengan adanya pembangunan jembatan yang layak bagi kehidupan mereka. (pangihutan/hm16)
PREVIOUS ARTICLE
SPBU di Tapanuli Utara Diduga Layani Penimbun BBM Bersubsidi