Thursday, October 15, 2026
home_banner_first
SUMUT

Warga Tiga Desa di Tigalingga Keluhkan Air Perumda Lae Nciho Mengalir Dua Kali Seminggu

Mistar.idKamis, 15 Oktober 2026 pukul 17.25 WIB
warga_tiga_desa_di_tigalingga_keluhkan_air_perumda_lae_nciho_mengalir_dua_kali_seminggu

Warga mengambil air pancur di mata air dekat sungai. (Foto Ilustrasi:Gemini/Mistar)

Dairi, MISTAR.ID (15/10/2026) – Masyarakat di tiga desa di Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi, mengeluhkan pelayanan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Lae Nciho.

Keluhan itu disampaikan sejumlah warga Desa Tigalingga, Lau Bagot, dan Lau Sireme kepada MISTAR.ID, Kamis (15/10/2026).

Menurut sejumlah warga, terdapat sejumlah kejanggalan dalam pelayanan Perumda Air Minum Lae Nciho. Mereka mengeluhkan biaya pembayaran yang cukup mahal, sementara air hanya mengalir ke rumah pelanggan satu hingga dua kali dalam seminggu. Bahkan, aliran air kerap macet. Bagi warga yang memiliki bak penampung berukuran besar, kondisi ini tidak terlalu bermasalah.

"Sistemnya begitu. Jadi, bagi warga yang memiliki bak penampung ukuran besar tidak bermasalah karena bisa bertahan dan cukup menunggu air mengalir berikutnya. Bagi yang tidak punya bak besar, sangat membebani. Sebab, sambil menunggu air Perumda mengalir, kami harus membeli air sumur bor yang dijual seharga Rp60 ribu per fiber berukuran 1.000 liter secara patungan sesama warga," kata warga berinisial J dan S.

Ironisnya, menurut warga, pembayaran rekening air minum Perumda Air Minum Lae Nciho bisa mencapai Rp120.000 hingga Rp160.000 per bulan meski kondisi pelayanan demikian.

Menanggapi hal itu, Kepala Unit Perumda Air Minum Lae Nciho Cabang Tigalingga, Enda Suranta Ginting, saat dikonfirmasi MISTAR.ID melalui WhatsApp, Kamis (15/10/2026), mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung lama.

Menurut Enda, hal itu terjadi karena debit air dari sumber berkurang. Selain itu, sumber air dari Sibengkurung juga digunakan bersama untuk memenuhi kebutuhan air Desa Juma Gerat.

"Tentang air mengalir dua kali dalam satu minggu, sistemnya memang sudah dari dulu seperti itu karena sumber air tinggal satu untuk Tigalingga, yang sebelumnya ada dua sumber," kata Enda.

Terkait kondisi tersebut, Enda berharap segera ada penambahan sumber air baru agar kebutuhan air minum pelanggan di Tigalingga dapat terpenuhi dan distribusinya berjalan lancar.

Terpisah, Camat Tigalingga, Saut Marganda Sinaga, saat dikonfirmasi MISTAR.ID melalui telepon dan WhatsApp, menjelaskan bahwa berdasarkan data yang diperolehnya dari Perumda Air Minum Lae Nciho, jumlah pelanggan saat ini mencapai 2.139 kepala keluarga (KK).

Debit air dari sumber Sibengkurung mencapai 14 liter per detik. Namun, sumber tersebut tidak dapat dimanfaatkan sepenuhnya karena airnya juga digunakan untuk mengairi lahan persawahan masyarakat. Kondisi ini mengakibatkan Perumda Air Minum Lae Nciho menerapkan sistem distribusi air secara bergilir, yakni dua kali dalam satu minggu.

Sementara itu, sumber air dari Lau Lubuk dialirkan kepada pelanggan di Jalan Sisingamangaraja, Lumban Aritonang, Kesumpat, Batu Ardan, dan Perumahan II.

"Jadi, untuk memenuhi kebutuhan air minum di Tigalingga, Perumda masih membutuhkan sumber air baru. Untuk sementara, masyarakat memperoleh air dengan membeli air sumur bor, menampung air hujan, dan mengambil air dari pancuran mata air di sungai terdekat," ujar Saut.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN