Proyek Jaringan Pipa Transmisi Dusem Diharapkan Dorong Ekonomi Daerah, Masyarakat Mendukung

Tim Humas dan konsultan MK Proyek pembangunan pipa gas transmisi Dusem 1 dalam temu ramah dan diskusi bersama wartawan di Kisaran. (foto: istimewa/mistar)
Asahan, MISTAR.ID
Proyek pembangunan jaringan pipa transmisi gas Dumai–Sei Mangkei (Dusem) mendapat dukungan dari masyarakat di Asahan. Proyek strategis nasional ini diharapkan tidak hanya memperkuat pasokan energi, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Sebelumnya, proyek pipa transmisi gas Dumai–Sei Mangkei sepanjang 541,8 kilometer yang melintasi Sumatera Utara dan Riau resmi dimulai melalui kegiatan first welding (pengelasan perdana) di Kelurahan Sei Renggas, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan pada 29 April 2026. Pembangunan awal difokuskan pada segmen Belawan hingga Labuhanbatu.
Sejumlah warga di Kabupaten Asahan menyambut baik proyek tersebut. Mereka berharap pembangunan infrastruktur energi ini benar-benar memberikan dampak langsung bagi masyarakat, bukan hanya bagi sektor industri besar.
“Kalau memang bisa membuka lapangan kerja dan harga gas jadi lebih murah, tentu kami sangat mendukung. Yang penting masyarakat di sekitar proyek juga ikut merasakan manfaatnya,” ujar Rahmat, warga Kecamatan Kisaran Barat, Minggu (24/5/2026).
Praktisi energi, ekonomi dan infrastruktur Hazlansyah Ramelan menilai pembangunan jaringan pipa transmisi gas Dumai–Sei Mangkei (Dusem) merupakan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus menekan biaya logistik energi di kawasan Sumatra.
Kandidat Doktor Universitas Muhammadiyah Malang ini juga menyebut proyek ini tidak hanya berdampak pada sektor industri besar, tetapi juga memiliki efek domino terhadap perekonomian masyarakat di daerah yang dilalui jalur pipa.
“Proyek seperti Dusem ini sangat penting karena akan menciptakan efisiensi distribusi energi. Dampaknya beberapa tahun akan datang bukan hanya ke industri, tetapi juga ke masyarakat luas melalui stabilitas harga dan peluang ekonomi baru,” katanya.
Ia menambahkan, pemanfaatan gas bumi domestik juga menjadi langkah penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
Menurutnya, keberadaan infrastruktur gas terintegrasi dari Sumatera Utara hingga Riau juga akan memperkuat daya saing kawasan industri di Sumut seperti KEK Sei Mangkei hingga Belawan dalam menarik investasi.
“Jika pasokan energi stabil dan lebih murah, maka investor akan lebih percaya diri masuk ke kawasan industri di Sumatera Utara. Ini akan membuka lapangan kerja baru,” ucapnya.
Sementara itu, Erwin Syafari selaku Humas didampingi Ganda Citra Konsultan MK Proyek pembangunan pipa gas transmisi Dusem 1 dalam temu ramah dan diskusi bersama wartawan di Kisaran, Kabupaten Asahan, Kamis (21/5/2026) lalu mengatakan, proyek ini memiliki komitmen Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang cukup tinggi, yakni berkisar antara 60,9 persen yang merupakan bentuk nyata komitmen dan dukungan terhadap penggunaan produk, material, peralatan, serta jasa dalam negeri guna memperkuat industri nasional.
“Seluruh kebutuhan pipa baja pada proyek ini diproduksi oleh industri nasional, termasuk PT Krakatau Steel,” tuturnya.
Implementasi TKDN tidak hanya bertujuan meningkatkan kemandirian bangsa dalam sektor konstruksi dan energi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan kapasitas industri lokal, penyerapan tenaga kerja, transfer teknologi, serta peningkatan daya saing perusahaan dalam negeri.
Proyek ini diproyeksikan memberikan sejumlah manfaat strategis bagi masyarakat, mulai dari penyediaan energi yang lebih terjangkau, efisien, hingga membuka peluang kerja baru di daerah yang dilalui jalur pipa.
“Sejauh ini penerimaan masyarakat terhadap kehadiran proyek ini terutama di Wilayah Kabupaten Asahan sangat baik. Artinya, pelan-pelan masyarakat sudah mengetahui dampak dari pekerjaan ini sehingga dengan pemanfaatan gas bumi domestik juga berpotensi mengurangi beban subsidi impor gas elpiji,” ucap dia.
Proyek pipa gas Dusem merupakan Proyek Strategis Nasional dengan nilai investasi sekitar Rp6,5 triliun. Infrastruktur ini menghubungkan Sumatera Utara hingga Riau dengan total lintasan 11 kabupaten/kota.
Selain memperkuat pasokan energi untuk industri di Sumatra, proyek ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional dan mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih dan efisien.
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER

























