Dua Tahun Melawan Tumor, Pria 44 Tahun di Asahan Harapkan Bantuan Dermawan

Pria di Asahan pengidap tumor butuh uluran tangan. (foto: perdana/mistar)
Asahan, MISTAR.ID
Rudi Nainggolan, 44 tahun, warga Dusun VIII, Desa Teluk Dalam, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Asahan menunjukkan kisah pilu untuk sekedar berjuang mempertaruhkan hidup.
Dua tahun lamanya ia hanya bisa terbaring lemah di rumah orang tuanya. Tumor besar yang tumbuh di pangkal paha kanannya telah merenggut hampir seluruh kekuatannya. Sebelumnya, bapak dua anak itu hanyalah seorang supir truk.
Rudi kini pasrah. Penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh bahkan tumor di kakinya semakin membesar, kendati perobatan masih jalan. Di tengah harapan keputusasaan, Rudi menyampaikan permohonan bantuan dermawan agar penyakitnya bisa disembuhkan.
“Dengan segala kerendahan hati, saya mohon bantuan dari siapa pun agar tumor ini diangkat, saya ingin hidup dan kembali bersama keluarga,” ujar Rudi dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di kediamannya, Senin (12/1/2026).
Rudi dikenal sebagai sosok pekerja keras. Sebelum sakit, ia bekerja sebagai sopir truk pengangkut buah kelapa sawit untuk menghidupi istri dan lima orang anaknya. Berat badannya kala itu mencapai 80 kilogram, tubuhnya kuat, dan hari-harinya dihabiskan di jalan demi nafkah keluarga.
Namun, penyakit tumor yang perlahan membesar di bagian pangkal paha mengubah segalanya. Kini berat badannya turun drastis hingga sekitar 60 kilogram. Tumor seberat kurang lebih 3 kilogram itu membuat Rudi kesulitan berjalan, daya tahan tubuhnya terus menurun, dan rasa nyeri tak lagi tertahankan.
Meski begitu, semangat hidupnya tidak pernah benar-benar padam. Rudi terus berusaha berobat ke berbagai tempat, berharap ada secercah harapan untuk sembuh.
Pada 2025 lalu, Rudi sempat dirujuk dari salah satu rumah sakit di Kisaran ke Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan menggunakan BPJS Kesehatan. Ia menjalani perawatan selama sekitar 10 hari, sambil menunggu hasil diagnosis lanjutan dari tim medis.
Harapan Rudi kala itu sederhana, tumor segera diangkat agar ia bisa kembali beraktivitas. Namun dokter belum dapat memastikan apakah operasi bisa langsung dilakukan atau tidak, sehingga Rudi diminta menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
Keterbatasan biaya hidup selama perawatan membuat Rudi terpaksa mengambil keputusan berat. Ia pulang ke kampung halaman sebelum hasil diagnosis final diterima, meski kondisi kesehatannya belum membaik.
“Berobatnya gratis, tapi biaya hidup saya dan keluarga selama perobatan di sana cukup besar. Akhirnya kami pulang sebelum perobatannya tuntas,” ujarnya.
Kini, Rudi dirawat secara sederhana di rumah orang tuanya. Di tengah keterbatasan dan rasa sakit yang terus menghantui, satu harapan masih ia genggam erat, adanya perhatian dan uluran tangan dari pemerintah daerah serta pihak-pihak terkait agar operasi tumor dapat segera dilakukan.





















