Thursday, June 4, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Program MBG Tetap Berjalan saat Ramadan, Begini Pola Distribusi di Siantar

Mistar.idSenin, 16 Februari 2026 14.09
AN
HH
program_mbg_tetap_berjalan_saat_ramadan_begini_pola_distribusi_di_siantar

Sejumlah siswa di Pematangsiantar menikmati menu MBG. (Foto: Dokumentasi Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama Ramadan 1447 Hijriah/2026. Namun, skemanya disesuaikan, sasarannya dipilah, dan distribusinya diatur ulang agar tetap relevan dengan kebutuhan puasa tanpa mengorbankan standar gizi.

Lantas, bagaimana program pemenuhan gizi massal beradaptasi dalam bulan puasa ketika jam makan berpindah, sekolah libur sebagian, dan kebutuhan kelompok rentan tetap mendesak.

Koordinator Wilayah Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) BGN Kota Pematangsiantar, Dinda Lestari, menyampaikan pada tanggal 16 sampai 21 Februari 2026, layanan MBG untuk siswa/siswi diliburkan sebagian mengikuti kalender libur sekolah.

Pengecualian diberikan kepada sekolah yang mayoritas siswanya nonmuslim, layanan tetap berjalan normal.

"Namun, distribusi bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tetap dilakukan seperti biasa sepanjang Ramadan. Pemerintah menilai kelompok ini tidak dapat menunda asupan gizi hanya karena perubahan jadwal akademik. Sasarannya ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tetap berjalan seperti biasa," ujar Dinda kepada Mistar, Senin (16/2/2026).

Distribusi bagi siswa akan kembali dimulai pada 23 Februari 2026 dengan mekanisme berbeda. Alih-alih makanan siap santap di sekolah, siswa akan menerima makanan kering kemasan sehat yang dapat dibawa pulang.

"Makanan yang dibagikan sudah memenuhi standar, karena di setiap SPPG sudah memiliki ahli gizi masing-masing, dan makanan yang diberikan disesuaikan dengan angka kecukupan gizi masing-masing penerima manfaat, baik itu siswa, B3 maupun tenaga pendidik," ucapnya.

Skema ini dipilih agar konsumsi dapat disesuaikan dengan waktu berbuka atau sahur. Artinya, intervensi gizi tidak berhenti, hanya formatnya yang berubah.

Pemerintah memastikan makanan yang dibagikan tetap memenuhi standar gizi. Di setiap SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), tersedia ahli gizi yang bertanggung jawab menyusun komposisi makanan sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG).

Penyesuaian dilakukan berdasarkan kategori penerima manfaat seperti siswa, ibu hamil, ibu menyusui, balita (B3), hingga tenaga pendidik. Kebutuhan protein, energi, zat besi, hingga mikronutrien lainnya dihitung berbeda untuk tiap kelompok. (hm25)


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN