Perayaan Waisak 2570 BE di Pematangsiantar Gaungkan Toleransi dan Kerukunan

Peringatan Malam Waisak 2570 Buddhist Era (BE) di Pematangsiantar. (Foto: Istimewa/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Ribuan cahaya lilin yang menyala di halaman Vihara Samiddha Bhagya, Jalan Thamrin, Sabtu (30/5/2026) malam, bukan sekadar Festival Malam Waisak 2570 Buddhist Era (BE). Melainkan menjadi simbol harapan, kebajikan, dan komitmen bersama merawat keberagaman di Pematangsiantar.
Perayaan Waisak tahun ini memiliki makna istimewa. Waisak 2570 BE memperingati tiga peristiwa agung dalam kehidupan Siddhartha Gautama, yakni kelahiran Pangeran Siddhartha, pencapaian Penerangan Sempurna menjadi Buddha, serta Parinibbana atau wafatnya Sang Buddha. Ketiga peristiwa tersebut dikenal sebagai Tri Suci Waisak yang menjadi momentum refleksi bagi umat Buddha di seluruh dunia.
Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi, menegaskan nilai-nilai yang terkandung dalam Waisak relevan bagi seluruh lapisan masyarakat, tidak terbatas pada umat Buddha semata.
“Perayaan Waisak bukan hanya menjadi momentum keagamaan bagi umat Buddha, tetapi juga menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya cinta kasih, toleransi, kebijaksanaan, serta hidup berdampingan dalam keberagaman," ujar Wesly.
Menurutnya, peringatan Waisak menjadi ruang untuk memperkuat persatuan, meningkatkan kepedulian sosial, dan mempererat hubungan antarkelompok masyarakat.
“Mari kita jadikan momentum ini sebagai penguat komitmen bersama untuk terus menjaga kerukunan, keamanan, dan keharmonisan Kota Pematangsiantar,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Erbin Chandra mengingatkan esensi Waisak bukanlah kemeriahan perayaan, melainkan proses perenungan diri yang mendalam.
"Tujuan kita bukan heboh-hebohan atau euforia semata. Waisak adalah momentum untuk merefleksikan apa yang telah kita lakukan selama satu tahun terakhir," ungkap Erbin Chandra.
Ia menjelaskan, Waisak mengajak umat untuk melakukan introspeksi terhadap pikiran, ucapan, dan perbuatan, serta memperkuat komitmen menjadi pribadi yang lebih baik.
Lebih jauh, Erbin mengibaratkan lilin yang dinyalakan pada perayaan Waisak sebagai simbol pengorbanan dan kebajikan universal. Bahkan, lilin tersebut juga memberikan penerangan kepada siapa pun tanpa membedakan etnis, suku, ras, agama, gender, maupun seluruh makhluk hidup. (hm25)























