Blackout Sumatra, Akademisi USI: Sistem Kelistrikan Rapuh, Kerugian Capai Rp698 Miliar

Akademisi Universitas Simalungun (USI), Raja Mangaratua Nainggolan. (Foto: Abdi/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Pemadaman listrik total (blackout) yang melanda wilayah Sumatra baru-baru ini memicu dampak sistemik yang masif. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan sedikitnya 13,1 juta pelanggan terdampak langsung akibat lumpuhnya jaringan listrik tersebut.
Menanggapi krisis energi itu, Akademisi dari Universitas Simalungun (USI), Raja Mangaratua Nainggolan, menilai blackout kali ini menimbulkan kerugian finansial dan sosial yang sangat besar, mulai dari sektor rumah tangga, pelaku UMKM, hingga industri skala besar.
Menurutnya, dampak pemadaman langsung juga dirasakan masyarakat melalui lumpuhnya aktivitas produktif akibat hilangnya jaringan internet dan matinya perangkat elektronik seperti AC, kulkas, hingga LCD.
“Bukan hanya aktivitas sosial yang terganggu, daerah yang bergantung pada pompa PDAM maupun sumur bor juga mengalami krisis air bersih selama beberapa jam. Dalam jangka panjang, masyarakat dibayangi pembengkakan pengeluaran akibat risiko kerusakan alat elektronik,” ujarnya kepada Mistar, Selasa (26/5/2026).
Di sektor usaha, kerugian juga meningkat signifikan. Industri besar harus menanggung tambahan biaya operasional akibat penggunaan energi darurat seperti genset. Sementara UMKM dan industri kecil mengalami kehilangan omzet akibat gagalnya transaksi digital, terputusnya komunikasi, hingga kerusakan bahan baku yang memerlukan pendingin.
Raja menjelaskan, dampak ekonomi blackout dapat dihitung menggunakan metode Value of Lost Load (VoLL), yakni pendekatan ekonomi energi dengan mengalikan energi yang tidak tersalurkan dengan nilai ekonomi listrik.
Dengan asumsi 13,1 juta pelanggan, konsumsi rata-rata 1 kWh per jam, dan durasi pemadaman selama enam jam, energi yang tidak tersalurkan diperkirakan mencapai 78,6 juta kWh.
“Jika dikalikan dengan nilai VoLL Rp8.000 per kWh, maka diperoleh estimasi kerugian sekitar Rp698 miliar. Angka ini bisa lebih besar tergantung nilai VoLL tiap daerah,” jelasnya.
Ia menambahkan, nilai VoLL berbeda di setiap wilayah, tergantung besarnya industri yang terdampak, transaksi digital yang gagal, penurunan produktivitas, hingga gangguan jaringan komunikasi. Sebagai perbandingan, nilai VoLL di Jawa-Bali mencapai Rp35.000,67 per kWh.
Raja juga menyoroti ironi kondisi Sumatra yang dikenal sebagai salah satu penghasil batu bara terbesar di Indonesia, namun masih mengalami krisis energi.
“Peristiwa ini menunjukkan betapa rapuhnya sistem kelistrikan di luar Jawa dan Bali. Kondisi ini sangat memprihatinkan dan ironis karena Sumatra merupakan salah satu pusat produksi batu bara terbesar di Indonesia,” tuturnya.
Ia berharap pemerintah dan pihak penyedia listrik melakukan evaluasi menyeluruh serta memperkuat sistem mitigasi agar blackout serupa tidak kembali melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat di Sumatra. (hm25)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER

























