Sunday, June 28, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Belajar dari Bali, Bupati Anton Siapkan Pariwisata Danau Toba Berbasis Rakyat

Mistar.idSelasa, 12 Mei 2026 pukul 13.07 WIB
belajar_dari_bali_bupati_anton_siapkan_pariwisata_danau_toba_berbasis_rakyat

Bupati Simalungun Anton Achmad Saragih saat mengikuti FGD percepatan pembangunan KEK Danau Toba di Bali.(foto:diskominfo/mistar)

news_banner

Simalungun, MISTAR.ID

Bupati Simalungun, Anton Achmad Saragih, menegaskan komitmennya membangun pariwisata Danau Toba yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat hingga ke tingkat nagori. Komitmen itu menguat usai dirinya menghadiri Focus Group Discussion (FGD) strategis percepatan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Danau Toba yang digagas Bank Indonesia di Kantor Bupati Gianyar, Bali, Senin (11/5/2026).

Kunjungan tersebut menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kabupaten Simalungun untuk mempelajari secara langsung keberhasilan Gianyar, Bali, dalam mengelola sektor pariwisata berbasis budaya yang terbukti mampu menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi daerah.

Dalam forum itu, Anton hadir bersama para kepala daerah dari kawasan Danau Toba, perwakilan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, tim ahli Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), jajaran Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara dan BI Sibolga, serta Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gede Mayun.

Salah satu pelajaran utama yang diserap dari Gianyar adalah keberhasilan daerah tersebut menerapkan sistem orkestrasi lintas sektor, di mana seluruh organisasi perangkat daerah bergerak dalam satu irama untuk mendukung pembangunan pariwisata secara menyeluruh.

Pendekatan itu dinilai berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi Gianyar hingga 5,58 persen, sekaligus menjaga stabilitas harga dengan tingkat inflasi yang tetap terkendali di angka 2,08 persen.

Tak hanya itu, transformasi digital juga menjadi sorotan penting dalam diskusi. Bank Indonesia menekankan pentingnya pemanfaatan sistem pembayaran digital berbasis QRIS untuk memastikan belanja wisatawan dapat langsung berputar di masyarakat secara aman, transparan, dan tepat sasaran.

Melalui sistem tersebut, manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan langsung oleh pedagang kecil, pelaku UMKM, hingga para pengrajin lokal.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan teknis di Hotel Royal Pitamaha yang menghadirkan Prof. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau Prof. Cok Ace, pakar arsitektur sekaligus Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali.

Dalam paparannya, Prof. Cok Ace menekankan konsep local value chain atau rantai nilai lokal, yakni memastikan seluruh sektor masyarakat terhubung dengan ekosistem pariwisata.

Menurutnya, sektor perhotelan dan industri jasa harus menyerap hasil pertanian warga setempat, produk UMKM dan kerajinan masyarakat wajib menjadi bagian dari fasilitas maupun suvenir destinasi wisata, sementara generasi muda harus dipersiapkan melalui pendidikan karakter agar tumbuh sebagai tuan rumah yang cerdas dan bangga terhadap identitas budayanya.

“Pariwisata adalah sebuah ekosistem yang saling mengikat satu sama lain. Jika pendidikan karakter masyarakat kuat, dan sektor produksi rakyat seperti pertanian serta kerajinan berjalan dengan baik, maka pariwisata akan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan,” ujar Prof. Cok Ace.

Ia juga memberikan pesan khusus agar pengembangan kawasan Danau Toba tetap menjunjung tinggi ciri khas arsitektur asli Simalungun agar memiliki identitas visual yang unik dan berbeda dari destinasi lain di dunia.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Bupati Anton menegaskan bahwa arah pembangunan pariwisata Simalungun ke depan harus berpijak pada kekuatan kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Menurutnya, keberhasilan sektor wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam, tetapi juga oleh budaya pelayanan, keramahan warga, serta kemampuan menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi setiap pengunjung.

“Ini adalah tugas kita bersama untuk membangun pariwisata yang memiliki ruh, dengan tetap memegang teguh prinsip kerja BerAKHLAK. Kami berkomitmen untuk segera mewujudkan kerja sama nyata yang memastikan dapur masyarakat kita terus mengepul,” kata Anton.

Ia menambahkan, hotel-hotel dan destinasi wisata di kawasan Danau Toba harus menjadi pasar utama bagi hasil bumi petani, produk perkebunan, hingga karya para pengrajin yang hidup di nagori-nagori sekitar.

Dengan dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Bank Indonesia, dan BRIN, Anton optimistis pengembangan KEK Danau Toba dapat menjadi model pembangunan pariwisata yang bukan hanya berkelas dunia, tetapi juga berkeadilan bagi masyarakat lokal. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN