Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

CEO Telegram dan Elon Musk Sebut WhatsApp Tak Aman, Meta Bilang Gini

Mistar.idKamis, 29 Januari 2026 pukul 09.26 WIB
ceo_telegram_dan_elon_musk_sebut_whatsapp_tak_aman_meta_bilang_gini

Ilustrasi WhatsApp. (Foto: Shutterstock/Jordan Jay Corner)

news_banner

San Francisco, MISTAR.ID

CEO Telegram Pavel Durov melontarkan kritik keras terhadap WhatsApp dengan menyebut platform pesan instan milik Meta itu tidak aman. Pernyataan tersebut muncul di tengah bergulirnya gugatan class action terhadap WhatsApp di Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk California Utara.

Durov bahkan menyebut hanya “orang bodoh” yang percaya WhatsApp aman pada 2026. Tuduhan itu ia sampaikan melalui akun X miliknya, dengan menyinggung klaim end-to-end encryption (E2EE) WhatsApp yang kini dipersoalkan secara hukum.

“Anda benar-benar bodoh jika percaya WhatsApp aman di 2026. Ketika kami menganalisis bagaimana WhatsApp menerapkan ‘enkripsinya’, kami menemukan banyak celah serangan,” tulis Durov.

Ia mengklaim analisis internal Telegram menemukan sejumlah attack vectors atau celah serangan dalam implementasi enkripsi WhatsApp. Namun, Durov tidak mengungkapkan rincian teknis temuan tersebut ke publik.

WhatsApp sendiri selama ini menggunakan Signal Protocol, sistem enkripsi yang telah diaudit secara independen dan diklaim memastikan E2EE aktif secara default, sehingga hanya pengirim dan penerima pesan yang dapat membaca isi percakapan.

Kritik terhadap WhatsApp juga datang dari Elon Musk. CEO Tesla sekaligus pemilik X itu ikut menanggapi isu tersebut dengan nada sinis.

“WhatsApp tidak aman. Bahkan Signal juga patut dipertanyakan. Gunakan X Chat,” tulis Musk di X.

Komentar tersebut merupakan respons terhadap unggahan akun DogeDesigner yang mengutip laporan Bloomberg terkait gugatan hukum terhadap Meta.

Menanggapi tudingan tersebut, Kepala WhatsApp Will Cathcart memberikan bantahan tegas. Melalui akun X miliknya, Cathcart menyatakan WhatsApp tidak memiliki kemampuan untuk membaca pesan pengguna.

“Ini sepenuhnya salah. WhatsApp tidak bisa membaca pesan karena kunci enkripsinya tersimpan di ponsel pengguna dan kami tidak memiliki akses ke sana,” tulis Cathcart.

Ia juga menilai gugatan tersebut tidak berdasar dan hanya mencari perhatian publik. Bahkan, Cathcart menuding firma hukum yang mengajukan gugatan merupakan pihak yang sebelumnya membela NSO Group, perusahaan spyware yang dituduh terlibat dalam peretasan terhadap jurnalis dan pejabat pemerintah.

Berdasarkan laporan Bloomberg, gugatan tersebut diajukan oleh kelompok penggugat internasional yang menantang klaim pemasaran Meta terkait fitur E2EE WhatsApp. Para penggugat menilai klaim privasi tersebut menyesatkan.

Dalam dokumen gugatan, WhatsApp dituduh menyimpan, menganalisis, dan memiliki kemampuan mengakses hampir seluruh komunikasi pengguna yang selama ini diklaim sebagai percakapan pribadi. Penggugat juga menuding Meta masih memiliki kemampuan untuk mendekripsi dan meninjau isi pesan untuk keperluan analisis data dan pemantauan internal.

Gugatan ini mewakili pengguna dari sejumlah negara, termasuk India, Brasil, Australia, Meksiko, dan Afrika Selatan.

Meta membantah keras seluruh tudingan tersebut. Juru bicara Meta, Andy Stone, menyebut gugatan itu remeh dan tidak masuk akal. Ia menegaskan WhatsApp telah menggunakan enkripsi end-to-end dengan Signal Protocol selama lebih dari satu dekade.

“Setiap klaim yang menyebut pesan WhatsApp tidak dienkripsi adalah sepenuhnya salah. Gugatan ini adalah fiksi yang sembrono,” ujar Stone dalam pernyataan tertulis kepada Bloomberg. (hm25)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN