Tuesday, July 7, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Bumi Berpotensi Selamat Saat Matahari Berubah Jadi Raksasa Merah

Mistar.idSelasa, 7 Juli 2026 pukul 06.30 WIB
bumi_berpotensi_selamat_saat_matahari_berubah_jadi_raksasa_merah

Matahari. (Foto: Hispantv)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Selama bertahun-tahun, para astronom percaya Bumi akan mati ditelan Matahari ketika bintang pusat Tata Surya itu mengembang menjadi raksasa merah sekitar lima miliar tahun mendatang.

Namun, hasil penelitian terbaru menunjukkan kemungkinan yang lebih optimistis, yakni Bumi berpeluang selamat dari skenario tersebut.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics menyebut peluang itu bergantung pada proses hilangnya massa Matahari ketika memasuki fase akhir evolusinya.

Riset yang dipimpin astronom Mats Esseldeurs dari Institute of Astronomy, KU Leuven, Belgia, bersama Stéphane Mathis dan Leen Decin itu menggunakan model terbaru mengenai evolusi bintang serta interaksi gravitasi. Melalui simulasi tersebut, tim menghitung ulang perubahan orbit Bumi saat Matahari memasuki fase raksasa merah hingga berkembang menjadi bintang Asymptotic Giant Branch (AGB).

Selama ini, model lama memprediksi Matahari yang terus mengembang akan menelan Merkurius, Venus, dan akhirnya Bumi. Namun, model terbaru menemukan adanya dua proses yang saling bersaing.

Di satu sisi, gaya pasang surut gravitasi (tidal forces) berusaha menarik Bumi semakin mendekati Matahari. Di sisi lain, Matahari akan kehilangan massa dalam jumlah besar melalui angin bintang. Ketika massa Matahari berkurang, gaya gravitasinya ikut melemah sehingga orbit Bumi justru dapat bergeser menjauh.

Jika kehilangan massa berlangsung cukup cepat, Bumi diperkirakan berhasil menghindari mulut Matahari yang terus membesar. Namun jika prosesnya lebih lambat, planet ini tetap berisiko tertelan.

"Nasib Bumi bergantung pada keseimbangan yang sangat rumit," tulis para peneliti dalam makalah mereka, seperti dikutip dari detikcom, Selasa (7/7/2026).

Untuk memperkuat model mereka, para ilmuwan mempelajari L2 Puppis, bintang yang berjarak sekitar 200 tahun cahaya dari Bumi dan memiliki karakteristik yang diperkirakan mirip dengan Matahari pada masa tuanya.

Pengamatan terhadap bintang tersebut menunjukkan laju kehilangan massa yang dapat menjadi petunjuk mengenai masa depan Matahari.

Menggunakan data tersebut, simulasi menunjukkan Bumi kemungkinan dapat bertahan melewati fase raksasa merah maupun fase AGB. Namun, para peneliti menegaskan masih ada ketidakpastian karena laju kehilangan massa Matahari di masa depan belum bisa dipastikan secara akurat.

Meski Bumi mungkin tidak tertelan Matahari, bukan berarti planet ini akan tetap layak dihuni. Jauh sebelum Matahari mencapai akhir hidupnya, luminositasnya akan terus meningkat. Dalam sekitar satu miliar tahun, suhu Bumi diperkirakan menjadi terlalu panas bagi kehidupan kompleks.

Lautan akan mulai menguap, atmosfer berubah drastis, dan kehidupan seperti yang kita kenal saat ini hampir pasti punah. Dengan kata lain, jika Bumi benar-benar selamat dari kematian Matahari, kemungkinan besar yang tersisa hanyalah planet tandus tanpa kehidupan.

Meski demikian, penelitian ini tetap penting karena mengubah pemahaman ilmuwan mengenai evolusi Tata Surya. Selama bertahun-tahun, skenario Bumi ditelan Matahari dianggap hampir pasti. Kini, model terbaru menunjukkan peluang lain masih terbuka, meski hasil akhirnya sangat bergantung pada bagaimana Matahari berevolusi miliaran tahun dari sekarang. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN