Saturday, July 4, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Bintang yang Meledak Jadi Supernova Terdekat Akhirnya Terdeteksi

Mistar.idJumat, 27 Februari 2026 pukul 06.00 WIB
bintang_yang_meledak_jadi_supernova_terdekat_akhirnya_terdeteksi

Supernova SN 2025pht. (Foto: Keckobservatory)

news_banner

Illinois, MISTAR.ID

Untuk pertama kalinya dalam era astronomi modern, ilmuwan berhasil memastikan identitas bintang yang meledak menjadi supernova terdekat. Keberhasilan ini tak lepas dari kemampuan observasi inframerah milik James Webb Space Telescope (JWST) yang dioperasikan NASA/ESA/CSA, yang mampu menembus lapisan debu kosmik tebal.

Supernova tersebut bernama SN 2025pht, pertama kali terdeteksi pada 29 Juni 2025 di galaksi spiral NGC 1637. Setelah ledakan teramati, astronom di berbagai negara segera mengarahkan teleskop mereka untuk menganalisis peristiwa itu.

Namun, tim dari Northwestern University yang dipimpin Charlie Kilpatrick memilih langkah berbeda. Mereka justru menelusuri data arsip sebelum ledakan terjadi guna mengidentifikasi bintang yang menjadi sumbernya.

Petunjuk penting berasal dari pengamatan tahun 2024 menggunakan dua instrumen utama Webb, yakni MIRI (Mid-Infrared Instrument) dan NIRCam (Near-Infrared Camera). Dari citra tersebut, peneliti menemukan satu raksasa merah yang posisinya identik dengan lokasi SN 2025pht saat ini.

“Kami sudah lama menanti momen ketika sebuah supernova terjadi di galaksi yang sebelumnya telah dipotret Webb,” ujar Kilpatrick.

Ia menambahkan, “Untuk pertama kalinya, data Hubble dan Webb kami gabungkan sehingga karakter bintang ini bisa dipetakan secara menyeluruh.”

Hasilnya cukup mengejutkan. Bintang itu tergolong sangat ekstrem. Menurut Aswin Suresh, mahasiswa doktoral di Northwestern, objek tersebut merupakan raksasa merah yang sangat pekat debu dan memiliki warna paling merah dibandingkan kandidat lain yang pernah diamati sebelum meledak.

Misteri Raksasa Merah yang “Menghilang”

Temuan ini sekaligus menjawab teka-teki lama dalam studi evolusi bintang, yakni kasus hilangnya raksasa merah masif. Secara teori, bintang dengan massa besar yang akan berakhir sebagai supernova seharusnya tampak sangat terang dan mudah dikenali pada citra sebelum ledakan. Kenyataannya, banyak supernova tidak menunjukkan kandidat bintang terang yang jelas dalam data pra-ledakan.

Salah satu dugaan menyebutkan bahwa bintang-bintang tua bermassa besar sebenarnya terselubung debu dalam jumlah besar, sehingga cahayanya meredup dan sulit terdeteksi teleskop optik biasa. Observasi Webb terhadap SN 2025pht memperkuat dugaan tersebut.

“Saya memang lama mendukung penjelasan ini, tetapi bahkan saya tak menyangka kasus SN 2025pht akan menunjukkan kondisi seekstrem ini,” kata Kilpatrick.

“Ini mungkin alasan mengapa raksasa super bermassa besar seolah tak terlihat karena mereka jauh lebih berdebu dari perkiraan.”

Dengan kata lain, bintang-bintang itu bukan lenyap, melainkan tersembunyi di balik kepungan debu kosmik yang sangat rapat.

Tak berhenti pada identifikasi progenitor, tim juga menganalisis komposisi debu di sekitarnya. Hasilnya di luar ekspektasi. Umumnya, lingkungan raksasa merah didominasi partikel silikat. Namun pada kasus ini, debunya justru kaya karbon.

Peneliti menduga unsur karbon tersebut mungkin terdorong keluar dari lapisan dalam bintang menjelang ledakan, menunjukkan dinamika internal yang kompleks pada fase akhir kehidupannya.

“Pengamatan pada panjang gelombang inframerah menengah sangat krusial untuk membatasi tipe debu yang terdeteksi,” ujar Suresh.

Kemampuan inframerah Webb memang menjadi kunci utama. Teleskop ini dirancang untuk menangkap radiasi yang mampu menembus debu kosmik, membuka akses terhadap objek yang sebelumnya tersembunyi dalam spektrum cahaya tampak.

Penemuan progenitor SN 2025pht memberikan dampak penting bagi pemahaman evolusi bintang masif. Hasil ini memperkuat teori mengenai peran debu kosmik, membantu penyempurnaan model kematian bintang besar, serta memberikan gambaran baru tentang proses kimia yang terjadi menjelang supernova. Studi tersebut dipublikasikan pada Oktober 2025 di jurnal ilmiah Astrophysical Journal Letters.

Ke depan, jika lebih banyak supernova muncul di galaksi yang sudah terdokumentasi Webb, peluang mengungkap fase akhir kehidupan bintang masif akan semakin besar. Supernova bukan sekadar ledakan dahsyat di langit. Ia merupakan penutup perjalanan panjang sebuah bintang dan berkat Webb, kini para ilmuwan mulai memahami bagaimana kisah akhir itu bermula. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN