Tuesday, October 13, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Wacana Tinggal Kelas Kembali Mengemuka, Ini Tanggapan Orang Tua dan Guru di Toba

Mistar.idSelasa, 13 Oktober 2026 pukul 19.40 WIB
wacana_tinggal_kelas_kembali_mengemuka_ini_tanggapan_orang_tua_dan_guru_di_toba

Kantor Disdikpora Toba. (Foto: Nimrot/Mistar)

news_banner

Toba, MISTAR.ID (13/10/2026) – Wacana penerapan kembali kebijakan tinggal kelas mendapat tanggapan dari orang tua, guru, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Toba. Penerapan kebijakan tersebut dinilai memiliki dampak positif dan negatif bagi tenaga pengajar (guru), orang tua, maupun siswa.

Seperti disampaikan salah seorang orang tua siswa di Kecamatan Porsea, Riana, penerapan kebijakan tinggal kelas untuk siswa tentu akan berdampak terhadap berbagai pihak. Salah satu yang terdampak langsung adalah siswa yang mengikuti proses belajar mengajar.

Jika benar program ini diberlakukan, anak didik (siswa) akan terkejut. Bayangkan, cukup lama anak diberikan buaian yang membuatnya nyaman, tetapi tiba-tiba kenyamanan tersebut dicabut. Dampaknya tentu akan membuat anak menjadi kalut. Terlebih, jika dirinya sampai tinggal kelas, bisa jadi si anak akan merasa minder di hadapan teman-temannya.

"Kita tahu anak sekarang tidak setegar anak dahulu. Seperti saya zaman 1990-an, ditempa untuk selalu bekerja keras dan berjuang menggapai suatu tujuan atau cita-cita. Dampak positifnya, berlakunya program ini akan mendidik anak untuk terus berjuang dengan belajar serius agar dapat naik kelas. Tetapi, perlu diingat, risiko beban mental anak akan sering terjadi," ujar Riana, Selasa (13/10/2026).

Plt. Kepala UPTD SD Negeri Patane I, Roselly Simanjuntak, mengatakan dirinya sangat mendukung pemberlakuan kembali program tinggal kelas untuk siswa. Sebab, hal ini akan memacu anak untuk belajar lebih giat lagi demi mencapai prestasi yang lebih maksimal.

Baik orang tua maupun anak tentu tidak ingin tinggal kelas. Dengan adanya rasa khawatir tinggal kelas, anak akan memperbaiki pola belajarnya agar bisa memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Orang tua juga demikian, karena tentu akan memperhatikan pola belajar anak di rumah agar anaknya dapat naik kelas.

"Demikian juga tenaga pengajar di sekolah akan terdampak secara positif, di mana guru akan memperbaiki sistem pembelajaran kepada siswa agar materi bidang studi yang diajarkan mudah dimengerti atau dipahami anak didiknya. Sebab, mana ada guru yang ingin anak didiknya tinggal kelas," ucap Roselly.

Lanjutnya, untuk dampak negatif, memang ada, misalnya anak didik tentu akan tertekan dan malu karena tinggal kelas. Namun, hal tersebut diharapkan dapat memotivasi anak untuk lebih semangat lagi dalam belajar sehingga peristiwa tinggal kelas tidak terulang lagi.

"Program ini akan membuat anak lebih tahan dalam berkompetisi dan tidak mudah menyerah. Sebab, kegagalan yang dialami akan menjadi pemicu anak didik untuk lebih baik lagi dalam mengasah otaknya guna menguasai mata pelajaran. Intinya, saya sebagai kepala sekolah setuju saja dengan program ini," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas) Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Toba, Paul Erikson Sagala, mengatakan pemberlakuan program tinggal kelas dinilai sangat bagus untuk mengukur kemampuan anak. Dengan demikian, anak diharapkan tidak mudah menyerah dalam mewujudkan sesuatu.

"Kendati demikian, program ini masih sebatas wacana dan kita tunggu saja nanti bagaimana kelanjutan dari program ini. Untuk regulasi yang harus dijalankan, kita belum tahu pasti. Tetapi, jika benar diberlakukan, tentu ada dampak positif dan negatifnya. Apabila kita memberikan pemahaman yang baik kepada siswa, maka dampak negatifnya dapat ditekan," ucap Paul. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN