Tuesday, October 13, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Psikolog Simalungun: Tinggal Kelas Bukan Solusi Kesulitan Belajar Anak

Mistar.idSelasa, 13 Oktober 2026 pukul 18.13 WIB
psikolog_simalungun_tinggal_kelas_bukan_solusi_kesulitan_belajar_anak

Psikolog Anak di Simalungun, Ruth Maya Tamba saat melakukan penjangkauan kepada anak korban pelecehan beberapa waktu lalu. (foto:dokumen maya/mistar)

news_banner

Simalungun, MISTAR.ID (13/10/2026) – Ruth Maya Tamba punya pandangan berbeda soal rencana tidak otomatis naik kelas bagi siswa SD dan SMP. Psikolog anak di Kabupaten Simalungun itu menilai kebijakan tersebut perlu dipikirkan kembali. Sebab, anak yang kesulitan mengikuti pelajaran belum tentu bisa dibantu dengan cara mengulang kelas.

Menurut Maya, persoalan belajar seharusnya dilihat sejak anak pertama kali masuk sekolah. Selama ini, kesiapan anak kerap dikaitkan dengan usia, padahal ada hal lain yang tidak kalah penting.

"Anak yang sudah berusia tujuh tahun pun belum tentu siap sekolah. Ada yang belum punya daya tahan mengikuti pelajaran, ada juga yang motivasi belajarnya belum terbentuk," kata Maya, Selasa (13/10/2026).

Ia mengatakan, tidak sedikit orang tua yang ingin anaknya segera masuk sekolah tanpa benar-benar melihat kesiapan anak. Akibatnya, ketika tuntutan pelajaran semakin tinggi, anak justru kesulitan mengikutinya.

Karena itu, Maya berpendapat evaluasi sebaiknya dilakukan sejak penerimaan siswa baru. Anak perlu dipersiapkan agar bisa mengikuti pelajaran dengan baik, bukan baru dicari solusinya setelah mengalami kesulitan.

"Kalau tujuannya memperbaiki akademik, bukan seperti itu caranya. Anak perlu didampingi, karena kemampuan belajar itu diperbaiki secara bertahap," ujarnya.

Maya juga mengingatkan dampak yang mungkin dialami anak ketika harus tinggal kelas. Di usia sekolah dasar, anak masih membangun rasa percaya diri. Ketika melihat teman-temannya naik kelas, sementara dirinya harus mengulang, bukan tidak mungkin ia merasa dirinya lebih bodoh daripada teman-temannya.

Masalahnya tidak berhenti di situ. Anak-anak seusia SD terkadang belum memahami bahwa perkataan mereka bisa menyakiti orang lain. Anak yang tinggal kelas bisa saja diejek atau dijauhi teman-temannya.

"Bisa terbentuk pemikiran bahwa dirinya tidak cukup mampu. Belum lagi kalau ada teman yang mengejek. Ini yang harus ikut dipikirkan," katanya.

Ia memahami tidak semua orang tua punya banyak waktu karena pekerjaan.

"Jangan sampai kita sibuk mencari uang untuk pendidikan anak, tetapi proses pendidikan anak itu sendiri malah terabaikan. Walaupun waktunya singkat, usahakan hadir sepenuhnya untuk anak," ujarnya.

Penggunaan gawai juga menjadi perhatian Maya. Anak sekolah dasar, katanya, masih perlu dibimbing agar tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar. Kebiasaan di rumah, termasuk pengaturan waktu belajar dan bermain, ikut menentukan bagaimana anak menjalani kesehariannya.

Kekhawatiran soal beban yang harus ditanggung keluarga turut disampaikan Nur, orang tua siswa di Simalungun. Ia mengaku tidak selalu punya waktu mendampingi anak belajar karena pulang bekerja sudah malam.

"Kadang kita hanya bisa mempersiapkan sebelum anak berangkat ke sekolah. Pulang kerja sudah malam, paling Sabtu Minggu bisa sama-sama menghabiskan waktu," katanya.

Nur khawatir jika kebijakan tinggal kelas diterapkan, anak dan orang tua sama-sama akan terbebani. Ia berharap rencana tersebut dibahas kembali sebelum diputuskan.

"Orang tua mana yang rela anaknya tinggal kelas? Kalau itu terjadi, pasti jadi beban orang tua juga," ujarnya.

Siti, orang tua lainnya, beranggapan bahwa setiap anak memang selayaknya sudah bisa membaca dan menulis sejak tingkat SD.

"Saya selalu memastikan itu apa aja kegiatan setiap harinya di sekolah. Termasuk soal tugas dan pengalaman belajar," katanya. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN