Tuesday, July 7, 2026
home_banner_first
SAHABAT PENDIDIKAN

Mahasiswi USU Juara KGSI 2026, Gagas Microclass AI Literasi dan Fact-Checking

Mistar.idSelasa, 19 Mei 2026 pukul 17.14 WIB
mahasiswi_usu_juara_kgsi_2026_gagas_microclass_ai_literasi_dan_factchecking

Aura Savinka Balqis, mahasiswa USU yang berhasil meraih juara 1 dalam Kompetisi Gagasan Sosial Inovatif 2026 di Medan. (foto:susan/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Mahasiswi semester akhir Jurusan Sastra Inggris Universitas Sumatera Utara (USU), Aura Savinka Balqis, berhasil meraih juara 1 dalam Kompetisi Gagasan Sosial Inovatif (KGSI) 2026 Medan melalui gagasannya bertajuk Digital Learning Companion: AI Literacy and Fact-Checking Microclass.

Kompetisi tersebut merupakan kolaborasi antara Narasi dan Kedutaan Besar Australia untuk mendukung pemberdayaan generasi muda di bidang pendidikan, inovasi sosial, dan pembangunan berkelanjutan.

Aura mengatakan motivasinya mengikuti kompetisi ini karena ingin mengambil langkah nyata dalam menyelesaikan persoalan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, khususnya terkait penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di lingkungan akademik.

“Agar bisa diberi kesempatan memecahkan masalah kecil yang sebenarnya relevan dengan mahasiswa, tetapi belum ada pergerakan aktif di lingkungan kampus maupun di Kota Medan,” ujarnya kepada Mistar, Selasa (19/5/2026).

Dalam presentasinya, Aura mengangkat isu tingginya penggunaan AI di kalangan Generasi Z tanpa diimbangi kemampuan berpikir kritis.

Ia berencana mengimplementasikan program tersebut dengan menjalin kerja sama bersama Narasi Academy serta dosen-dosen USU sebagai pengajar.

“Gen Z telah menjadi kelompok pengguna AI tertinggi di Indonesia, mencapai 43,7 persen. AI sudah menjadi bagian dari kehidupan pelajar, tetapi belum tentu digunakan dengan pemikiran kritis,” katanya.

Melalui program Digital Learning Companion, ia merancang microclass praktis yang bertujuan membantu mahasiswa menggunakan AI secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Program tersebut terdiri dari empat materi utama, yakni Credible Sources, Fact-Checking, Responsible AI Use, dan Digital Ethics. Peserta akan diajarkan cara mengidentifikasi sumber terpercaya, memverifikasi klaim, menggunakan AI sebagai asisten belajar, serta memahami pentingnya kejujuran akademik dan kesadaran terhadap plagiarisme.

Sebagai tahap awal, program akan diuji coba kepada 30 mahasiswa baru Sastra Inggris USU sebelum diperluas ke mahasiswa baru lintas jurusan dan universitas lain di Kota Medan melalui pembelajaran hybrid maupun daring.

“Mahasiswa tahun pertama masih membentuk kebiasaan akademik. Kalau mereka belajar menggunakan AI secara bertanggung jawab sejak awal, itu akan membantu cara mereka berpikir, belajar, dan menulis selama kuliah,” ujarnya.

Ia mengaku optimistis program tersebut dapat diimplementasikan karena dinilai realistis untuk dijalankan. Dalam tiga bulan pertama, ia berencana melakukan riset kebutuhan mahasiswa sekaligus menyusun modul pembelajaran bersama mentor dari Narasi Academy dan dosen USU.

Pada bulan kedua, microclass berdurasi 45 menit akan dilaksanakan dua kali dalam sebulan. Selanjutnya, evaluasi dilakukan melalui pre-test, post-test, serta pengumpulan umpan balik sebelum program diperluas.

Anak kedua dari tiga bersaudara itu mengakui tantangan terbesar dalam merealisasikan program tersebut adalah penyusunan modul pembelajaran. Namun ia yakin program dapat berjalan dengan dukungan mentor dan dosen pembimbing.

“Kalau pun ada kesalahan dalam pilot project microclass, itu wajar. Saya akan melakukan evaluasi dan meminta umpan balik untuk menyempurnakan program ini,” tuturnya.

Selain itu, ia juga ingin mendapatkan masukan langsung dari pendiri Narasi, Najwa Shihab, Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier, serta Wakil Rektor I USU Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan yang menjadi juri dalam kompetisi tersebut.

Aura berharap program yang digagasnya dapat membantu mahasiswa baru menjadikan AI sebagai teman belajar tanpa menghilangkan kemampuan berpikir kritis.

“Mahasiswa baru diharapkan bisa membentuk kebiasaan akademik untuk menggunakan AI secara bertanggung jawab melalui critical thinking dan fact-checking selama masa kuliah,” tuturnya. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN