Kemendikdasmen Pastikan Soal TKA Tidak Bocor Lagi

Ilustrasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 (Foto: Bloombergtechnoz/Envato)
Jakarta, MISTAR.ID
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperketat langkah pencegahan kebocoran soal dalam pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, menjelaskan penyusunan soal kini melibatkan kontribusi dari pusat dan daerah. Ia menyebutkan bahwa pemerintah daerah bahkan menyumbang variasi soal lebih banyak dibandingkan pusat, yakni sekitar 35 soal tambahan.
“Nah pendekatan ini tentunya kita ingin agar pengacakan soal ini harus sangat tinggi untuk menghindari hal-hal kebocoran dan lain-lain,” ujarnya, dilansir dari detikcom, Kamis (9/4/2026).
Menurut Toni, semakin banyak variasi soal yang tersedia, maka peluang terjadinya kebocoran akan semakin kecil. Hal ini diharapkan mampu menjaga integritas pelaksanaan TKA secara keseluruhan.
Selain itu, Kemendikdasmen juga bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk mengawasi potensi pelanggaran di ruang digital, khususnya di media sosial.
“Memantau potensi pelanggaran yang dilakukan melalui media-media mainstream. Jadi, kita juga bekerja sama dengan Komdigi untuk menjaga, tentunya transparansi dan akuntabilitas dari pelaksanaan TKA,” ucap Toni.
Ia optimistis kolaborasi ini dapat menciptakan pelaksanaan TKA yang jujur, transparan, serta membuat siswa dapat mengerjakan soal dengan tenang.
Senada dengan itu, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan, Rahmawati, menambahkan bahwa kerja sama dengan Komdigi juga mencakup penindakan terhadap konten yang diduga menyebarkan bocoran soal. Jika ditemukan, konten tersebut akan segera diturunkan agar tidak tersebar luas.
“Tapi Alhamdulillah sampai hari kedua ini dan harapannya untuk seterusnya tidak perlu ada tindakan seperti itu karena anak-anak kita bisa mengerjakan TKA, melaksanakan TKA dengan jujur dan kebenaran,” tuturnya.
Rahmawati juga mengungkap adanya temuan tautan di media sosial yang mengklaim membocorkan soal TKA. Namun, setelah ditelusuri, konten tersebut tidak memuat soal asli, melainkan hanya berupa rekonstruksi berdasarkan ingatan peserta. “Di beberapa media sosial itu juga ada link untuk menawarkan bocoran soal TKA seperti itu, tapi ketika kami mencoba mengecek betul-betul dari yang kami temukan itu tidak dalam bentuk perangkat layar dari monitor soal TKA itu sendiri. Tapi, dia seperti menceritakan kembali kemudian membuat (soal) seingat yang dia tadi sudah kerjakan,” jelasnya.
Pada gelombang pertama pelaksanaan, Kemendikdasmen mencatat 13 pelanggaran, yang terdiri dari 12 oleh pengawas dan satu oleh siswa. Rahmawati menegaskan tidak ada pelanggaran yang sampai membocorkan soal secara langsung.
Sebagian besar pelanggaran justru terkait aktivitas siaran langsung di media sosial. Ia menilai, tindakan tersebut lebih didorong keinginan untuk menunjukkan aktivitas saat ujian berlangsung, bukan untuk menyebarkan soal.
“Ketika live streaming itu dia tidak menunjuk ke layar komputer, artinya memang tidak ingin mengekspos soal. Tapi, lebih kaya eksis dia menunjukkan sedang TKA, sedang mengawasi TKA di ruangan, situasinya, tapi tidak melihat langsung atau menunjukkan langsung soal-soal kemudian memfoto,” tutur Rahmawati. (hm20)


























