Perspektif Psikologi Bencana dalam Ketidakberdayaan Penyintas Banjir di Sumatera

Ilustrasi. (Foto: Istimewa/Mistar)
Oleh: Diva Nanda Dealova
Bencana membawa banyak efek negatif bagi semua orang yang terdampak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain menimbulkan kerusakan fisik dan kerugian ekonomi, bencana juga dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Individu yang mengalami bencana berisiko mengalami kepanikan, kecemasan, kesedihan akibat kehilangan, bahkan trauma yang dapat memengaruhi kualitas hidup mereka dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, dampak bencana perlu dipahami tidak hanya dari aspek fisik, tetapi juga dari aspek psikologis.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Basarin Yunus Tanjung, menyebutkan bahwa bencana banjir ini dipicu oleh kondisi hidrometeorologi ekstrem, yaitu keadaan ketika hujan lebat melebihi kapasitas sehingga terjadi banjir. Drainase tidak mampu menampung volume air dan material dari hulu sungai yang terbawa hingga ke hilir.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2023) juga menyebutkan bahwa bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang dipengaruhi oleh kondisi iklim dan cuaca. Sementara itu, pada musim kemarau berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi kering, seperti kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.
Sebuah penelitian oleh Kodoatie dan Sjarief (2010) menjelaskan bahwa banjir di kawasan perkotaan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor alam, tetapi juga oleh faktor antropogenik, seperti buruknya sistem drainase, perubahan tata guna lahan, dan berkurangnya daerah resapan air.
Di samping dampak fisik yang ditimbulkan, banjir juga dapat memengaruhi kondisi psikologis penyintas. Dampak yang tidak kalah memprihatinkan adalah dampak psikologis yang dialami masyarakat terdampak.
Masyarakat penyintas banjir di Sumatera mengungkapkan adanya perasaan sedih, pasrah, lelah, khawatir, dan tidak nyaman ketika menghadapi banjir. Kesedihan muncul karena melihat barang-barang yang belum sempat diselamatkan menjadi rusak akibat terendam air.
Kekhawatiran juga dirasakan terhadap kondisi anggota keluarga dan kerabat yang mungkin turut terdampak banjir. Reaksi emosional tersebut merupakan respons yang umum muncul ketika individu dihadapkan pada situasi yang mengancam keselamatan diri, menimbulkan kerugian, serta berada di luar kendali mereka.
Apabila berlangsung dalam jangka waktu yang panjang tanpa adanya dukungan dan penanganan yang memadai, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih serius.
Perasaan pasrah yang dirasakan para penyintas banjir serta anggapan bahwa banjir merupakan kejadian yang tidak bisa dihindari, munculnya rasa apatis, sikap "mau gimana lagi", dan keyakinan bahwa keadaan sulit untuk diubah dapat mengindikasikan munculnya aspek-aspek ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness).
Baca Juga: Antisipasi Banjir, Pemkab Deli Serdang Lanjutkan Normalisasi Sungai Cempaka di Hamparan Perak
Ketidakberdayaan yang dipelajari merupakan kondisi psikologis ketika seseorang merasa tidak memiliki kendali terhadap situasi yang dihadapinya akibat paparan terhadap peristiwa traumatis atau kegagalan yang terjadi secara berulang.
Individu yang mengalami kondisi ini cenderung mengembangkan keyakinan bahwa apa pun yang mereka lakukan tidak akan mampu mengubah keadaan, sehingga muncul perasaan pasrah, kehilangan harapan, dan berkurangnya motivasi untuk bertindak (J et al., 2021).
Dalam konteks banjir yang terjadi berulang kali, perasaan pasrah yang dirasakan para penyintas dapat dipahami sebagai bentuk adaptasi psikologis terhadap pengalaman bencana yang terus-menerus terjadi. Penelitian J et al. (2021) juga mengungkapkan bahwa berkembangnya ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness) dapat menurunkan kesejahteraan psikologis pada individu yang terdampak bencana.
Membangun Harapan dan Resiliensi Pascabencana
Konsep active hope (harapan aktif), yang diperkenalkan oleh aktivis lingkungan sekaligus penulis Joanna Macy dan Chris Johnstone (2012), didasarkan pada pengakuan akan keterhubungan seluruh kehidupan serta kesadaran bahwa setiap individu memiliki kemampuan untuk menciptakan perubahan positif meskipun berada dalam situasi yang sulit.
Konsep ini mencakup tiga elemen utama, yaitu pemahaman yang realistis terhadap kondisi yang dihadapi, adanya visi mengenai masa depan yang lebih baik, serta keterlibatan aktif dalam mewujudkan visi tersebut.
Dalam konteks peristiwa cuaca ekstrem seperti banjir, active hope diwujudkan melalui penerimaan terhadap realitas bencana yang terjadi, kemampuan untuk membayangkan solusi yang lebih berkelanjutan, serta kemauan untuk mengambil tindakan yang bermakna dalam upaya mitigasi maupun adaptasi terhadap dampaknya (Diaz, 2024).
Setelah terjadinya bencana, baik banjir, kebakaran hutan, kekeringan, maupun badai, langkah pertama dalam mengembangkan active hope adalah menghadapi realitas yang ada. Hal ini melibatkan pengakuan terhadap faktor-faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko bencana serta pemahaman mengenai dampak jangka pendek maupun jangka panjang yang ditimbulkan terhadap individu, komunitas, dan lingkungan.
Dengan menghadapi kenyataan secara jujur dan berani, individu dapat mengembangkan rasa tanggung jawab, urgensi, serta keyakinan bahwa mereka tetap memiliki kemampuan untuk bertindak dan berkontribusi dalam proses pemulihan pascabencana (Diaz, 2024).
Selain itu, sumber daya individu, hubungan interpersonal yang resilien, serta komunitas yang lebih kuat ditemukan berkaitan dengan hasil pemulihan pascabencana yang lebih baik, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui berkurangnya kehilangan sumber daya psikososial.
Pada daerah yang terdampak bencana, sumber daya interpersonal, modal sosial, dan keterlibatan masyarakat menjadi prediktor yang lebih kuat terhadap adaptasi yang positif (Bakic & Ajdukovic, 2021).
Banjir tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga memengaruhi cara individu memandang dirinya sendiri dan masa depannya. Ketika bencana terjadi berulang kali, penyintas dapat mengembangkan perasaan tidak berdaya yang berisiko menurunkan kesejahteraan psikologis. Namun, melalui penguatan active hope, dukungan sosial, serta keterlibatan komunitas, penyintas tetap memiliki peluang untuk membangun kembali rasa kendali dan harapan terhadap masa depan.
Oleh karena itu, penanganan bencana perlu dilakukan secara holistik dengan memperhatikan aspek fisik, sosial, dan psikologis agar proses pemulihan dapat berlangsung secara optimal. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Jangan Remehkan Belanda di Piala Dunia 2026BERITA TERPOPULER



















