Sunday, July 5, 2026
home_banner_first
OPINI

Lembu Punya Susu, Sapi Punya Nama: Ironi Industri Cokelat Dunia

Mistar.idRabu, 22 Oktober 2025 pukul 12.12 WIB
lembu_punya_susu_sapi_punya_nama_ironi_industri_cokelat_dunia

Ilustrasi. (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Oleh: Anwar Suheri Pane

Beberapa waktu lalu, di sela-sela menonton televisi, saya terhenti pada sebuah iklan yang menampilkan orang-orang menikmati sepotong makanan dengan wajah puas, seolah menemukan kebahagiaan sederhana dalam gigitan kecil. Di latar, suara narator yang lembut berkata, “Cokelat Belgia mewah…”

Sekilas tampak manis dan memikat. Namun di balik keindahan visual itu, terselip getir yang tak terlihat kamera. Saya terenyuh memikirkan, dari mana sebenarnya biji cokelat itu berasal? Siapa yang menanamnya? Dan mengapa mereka tak pernah muncul dalam kisah manis yang dijual ke dunia?

Dalam peribahasa Melayu, ada sindiran halus yang terasa abadi: “Lembu punya susu, sapi punya nama.” Artinya, yang bekerja keras tidak selalu yang mendapat pengakuan. Pepatah ini menemukan makna baru di tengah industri cokelat dunia industri yang tampak manis di lidah, tapi menyimpan rasa pahit di akar produksinya.

Cokelat Belgia, Swiss, atau Italia sering dielu-elukan sebagai yang terbaik di dunia. Namun ironinya, tak sebatang pun pohon kakao tumbuh di tanah Eropa. Pohon kakao hanya bisa hidup di wilayah tropis, di antara 20° LU dan 20° LS dari garis khatulistiwa di Afrika Barat, Amerika Latin, dan Asia Tenggara.

Menurut International Cocoa Organization (ICCO, 2024) dan FAOSTAT (2023) basis data pertanian global milik Food and Agriculture Organization (FAO) produksi kakao dunia mencapai sekitar 5,2 juta ton per tahun, dan lebih dari 70 persen di antaranya berasal dari Afrika Barat.

Laporan ICCO Quarterly Bulletin of Cocoa Statistics (Vol. 50, No. 2, 2024) serta FAO Crop Statistics (2023) menunjukkan bahwa Pantai Gading menjadi raksasa utama dengan produksi sekitar 2,2 juta ton per tahun atau 42 persen dari pasar global, disusul Ghana dengan 850 ribu ton (16 persen).

Indonesia menempati posisi ketiga dengan 700 ribu ton (13 persen), sementara Ekuador menghasilkan sekitar 630 ribu ton (12 persen) dan Nigeria menyumbang sekitar 300 ribu ton (6 persen).

Angka-angka ini memperlihatkan bahwa sebagian besar bahan baku cokelat dunia justru berasal dari negara-negara tropis yang jauh dari label “chocolate premium” yang mendunia.

Ironinya, dari industri cokelat global yang bernilai lebih dari USD 130 miliar per tahun (Statista, 2024), para petani kakao hanya menerima kurang dari 6 persen dari total nilai rantai pasok. Sisanya dinikmati oleh eksportir, perusahaan pengolah, dan merek besar yang berbasis di Eropa dan Amerika Utara.

Negara-negara seperti Belgia, Swiss, dan Italia dikenal bukan karena kebun kakaonya, melainkan karena keunggulan pengolahan, resep, dan pencitraan. Mereka mengimpor biji mentah dari Pantai Gading, Ghana, dan Ekuador, lalu mengolahnya dengan teknologi tinggi menjadi produk cokelat bernilai tinggi.

Label seperti “Belgian Chocolate” atau “Swiss Chocolate” yang sering menghiasi iklan dan kemasan mewah, tidak berbicara tentang asal bahan baku, melainkan tentang tempat pengolahan dan reputasi industri. Dengan citra premium, cokelat Eropa dijual dengan harga berlipat ganda sementara petani di negara tropis tetap hidup sederhana.

Dalam setiap batang cokelat, yang paling mahal bukanlah biji kakaonya, melainkan nilai tambah dari proses pascapanen: fermentasi, roasting, conching, pengemasan, dan branding. Selama negara penghasil hanya menjual biji mentah, mereka akan terus kehilangan potensi ekonomi yang besar.

Data dari United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD, 2023) lembaga PBB yang memantau perdagangan dan nilai tambah industri global menunjukkan bahwa negara penghasil kakao hanya menguasai kurang dari 10 persen nilai total rantai industri cokelat dunia, sedangkan negara pengolah di Eropa menguasai lebih dari 60 persen nilai tambahnya.

Namun situasi ini mulai berubah. Sejumlah negara penghasil kini berani memproduksi cokelat dengan merek lokal. Ghana meluncurkan ’57 Chocolate yang diproduksi langsung di Accra. Ekuador menembus pasar dunia lewat Pacari Chocolate, pemenang International Chocolate Awards.

Sementara Indonesia bangkit dengan merek Krakakoa, Pipiltin Cocoa, dan Dua Cocoa, yang mengusung konsep bean-to-bar cokelat yang ditanam, diolah, dan dikemas di dalam negeri.

Langkah ini bukan sekadar bisnis, melainkan gerakan kedaulatan ekonomi: menulis nama sendiri di bungkus cokelat yang selama ini dimonopoli oleh Eropa. Kini konsumen global pun mulai sadar. Label seperti fair trade, single origin, dan direct trade semakin dicari.

Kesadaran baru ini memberi harapan bagi jutaan petani kakao di dunia agar tak lagi menjadi “pahlawan tanpa nama” dalam industri yang mereka hidupkan.

Sebab, keadilan rasa bukan hanya soal manis di lidah, tetapi juga soal adil di tangan yang menanamnya. Kini waktunya lembu menulis namanya sendiri dalam sejarah cokelat dunia bukan sapi yang terus menjadi terkenal. (*)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN