Di Balik Layar Drama Cina, Ada Cara Ayah-Ayah Belajar tentang Hidup dan Pendidikan

Ilustrasi menggambarkan keheningan seorang pria menikmati tontonan di gawai ponselnya. (Foto: Istimewa/Mistar)
Oleh: Hazlansyah Ramelan
Ada ruang waktu sendiri bagi sebagian pria selepas bekerja di sawah, kantor, bengkel, atau ruang kelas. Para ayah kembali ke rumah dengan tubuh letih dan pikiran yang penuh tanggung jawab.
Di sela waktu istirahat itulah belakangan ini banyak berseliweran platform drama Cina dari gawai dan media sosial yang perlahan menjadi bagian dari rutinitas. Bukan sekadar hiburan, melainkan ruang refleksi yang tak disangka-sangka.
Fenomena ini menarik untuk dibaca lebih dalam. Tayangan yang awalnya hanya tontonan keluarga, lambat laun berubah menjadi cermin kehidupan. Banyak ayah menemukan irisan pengalaman pribadi dalam cerita-cerita sederhana yang ditampilkan. Tokoh yang berjuang membiayai sekolah anak, keluarga yang harus memilih antara kebutuhan hari ini atau investasi masa depan, hingga konflik orang tua dan anak tentang pilihan hidup terasa begitu dekat.
Salah satu ayah itu adalah Hazlansyah Ramelan, dosen Universitas Muhammadiyah Asahan sekaligus kandidat doktor Universitas Muhammadiyah Malang yang melihat kecenderungan ini sebagai gejala sosial yang positif.
“Drama Cina menghadirkan cerita tentang keluarga dan pendidikan dengan pendekatan yang emosional namun membumi. Para ayah merasa dihargai karena perjuangan mereka digambarkan secara manusiawi,” ujarnya.
Menurut Hazlansyah, kekuatan utama drama tersebut terletak pada narasi tentang pendidikan. Pendidikan tidak ditampilkan sebagai jalan instan menuju kesuksesan, melainkan proses panjang yang sarat tekanan, pengorbanan, dan kegagalan.
“Di situ para ayah belajar bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi tentang karakter, ketekunan, dan daya tahan menghadapi hidup,” katanya.
Yang juga menarik adalah representasi figur ayah dalam drama tersebut. Sosok ayah kerap digambarkan tegas, pendiam, bahkan terlihat keras. Namun di balik itu tersimpan pengorbanan yang sunyi. Gambaran ini terasa relevan dengan kultur masyarakat Asahan yang cenderung menempatkan ayah sebagai penopang keluarga tanpa banyak ekspresi verbal.
“Banyak ayah di daerah kita mencintai dalam diam. Mereka mungkin tidak pandai mengucapkan kata-kata lembut, tetapi seluruh hidupnya diarahkan untuk memastikan anak-anaknya memiliki masa depan lebih baik,” tutur Hazlansyah.
Konflik antara orang tua dan anak dalam drama juga menjadi bahan renungan tersendiri. Perbedaan pandangan tentang jurusan kuliah, pekerjaan, atau cita-cita kerap memicu ketegangan. Namun alur cerita biasanya menawarkan ruang dialog, bukan sekadar kemenangan salah satu pihak. Di titik ini, para penonton termasuk para ayah, diajak memahami bahwa pendidikan adalah proses dua arah.
Hazlansyah menilai, tontonan semacam ini dapat memperkaya cara pandang orang tua. “Selama disikapi secara kritis, drama bisa menjadi media belajar. Ayah-ayah bisa memilah nilai yang sesuai dengan budaya dan agama, lalu menerapkannya secara bijak,” jelasnya.
Memang tidak semua nilai dalam drama Cina sejalan dengan konteks lokal. Sistem pendidikan, dinamika keluarga, hingga pola komunikasi tentu berbeda. Namun para ayah di Asahan menonton dengan kearifan tersendiri. Mereka tidak menelan mentah-mentah, melainkan merenungkan dan menyaringnya sesuai nilai yang diyakini.
Pada akhirnya, kegemaran terhadap drama Cina bukan sekadar tren hiburan lintas negara. Ia menjadi ruang belajar yang tidak formal, tempat para ayah memahami ulang makna pengorbanan, pendidikan, dan cinta dalam keluarga. Di balik layar kaca, ada pelajaran tentang kesabaran dan harapan pelajaran yang terus hidup dalam keseharian ayah-ayah dalam penat menikmati sunyi mereka. **
**Penulis: Dosen Universitas Muhammadiyah Asahan
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER






















