Stephen Curry Akhiri Kerja Sama 12 Tahun dengan Under Armour, Ini Dampaknya

Pebasket Stephen Curry. (foto:bbc/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Stephen Curry mengakhiri kerja sama selama 12 tahun dengan Under Armour. Pengumuman itu disampaikan perusahaan apparel asal Baltimore, Amerika Serikat, pada Kamis (13/11/2025) waktu setempat.
Setelah keputusan tersebut, Curry Brand, sub-brand yang diluncurkan pada 2020 di bawah naungan Under Armour, kini bebas mencari mitra baru. Meski demikian, Under Armour masih akan merilis Curry 13 sebagai edisi terakhir pada Februari 2026 mendatang.
“Kami sangat beruntung bisa bekerja sama dengan Stephen, yang bukan hanya sekadar duta, tetapi juga pemimpin bisnis visioner sebagai presiden Curry Brand,” kata pendiri dan CEO Under Armour, Kevin Plank, dalam rilis resmi dikutip dari The Athletic, Sabtu (15/11/2025).
Perpindahan Curry ke Under Armour dari Nike pada 2013 silam sempat menjadi kejutan besar. Pemain dengan 11 kali NBA All-Star itu juga pernah memperoleh 8,8 juta saham sebagai bagian dari perpanjangan kontrak pada 2023, yang saat itu bernilai USD 75 juta.
Kini, sejumlah brand disebut-sebut menjadi kandidat mitra baru Curry Brand. Mulai dari Nike, Adidas, New Balance, Puma, Reebok, Anta Sports, hingga Li-Ning, semua dinilai tertarik menggaet merek milik bintang Golden State Warriors tersebut.
Menurut pengamat pasar, Curry Brand tidak akan kekurangan peminat setelah berpisah dari Under Armour pada 2026. Namun ke mana Curry akan membawa mereknya, dan berapa nilai kerja sama baru itu, masih menjadi pertanyaan besar.
Kemitraan Under Armour dan Curry berlangsung panjang, terlebih setelah Curry Brand resmi diperkenalkan pada 2020. Under Armour bahkan memberikan kontrak seumur hidup kepada Curry pada 2023.
Namun setelah 12 tahun berjalan, penjualan Curry Brand disebut mengalami penurunan. Under Armour sendiri tengah menjalani restrukturisasi besar-besaran, termasuk pemutusan kontrak, pemangkasan karyawan, dan efisiensi operasional.
Wall Street terus memantau kinerja perusahaan, dan sejauh ini menyambut positif arah baru yang ditempuh Under Armour. Pemisahan dengan Curry menjadi bagian dari strategi untuk fokus kembali pada kekuatan utama perusahaan, yaitu merek Under Armour itu sendiri.
Analis Williams Trading, Sam Poser, menyebut langkah ini dapat menguntungkan UA dalam jangka panjang, seiring perubahan selera pasar dan tekanan tarif impor.
Menurut analis Needham, Tom Nikic, kontribusi Curry Brand kini jauh lebih kecil dibandingkan masa-masa awal kerja sama. Ia memperkirakan pendapatan Curry Brand saat ini berada di kisaran USD 75–100 juta, angka yang dinilai tidak terlalu signifikan bagi kinerja keseluruhan Under Armour.
“Meskipun Curry sudah mendekati akhir karier bermainnya, Under Armour harus mengganti manfaat tak berwujud yang ia berikan selama 13 tahun,” ujar Nikic.
Cristina Fernandez dari Telsey Advisory Group (TAG) menyoroti satu aspek menarik: beberapa atlet yang kini terikat kontrak dengan Curry Brand sebenarnya terikat langsung pada merek Curry, bukan Under Armour.
Contohnya pemain NBA De'Aaron Fox, yang baru saja meluncurkan sepatu Curry Fox 2. Artinya, jika Curry Brand berpindah mitra, para atlet tersebut dapat ikut dibawa ke perusahaan baru.
Fernandez menilai pemisahan ini tidak akan berdampak besar terhadap profitabilitas Under Armour karena penjualan Curry Brand memang telah melambat. Namun, ada risiko lain tanpa sepatu Curry, Under Armour diperkirakan kehilangan daya tarik di toko-toko khusus olahraga seperti Foot Locker. Curry juga merupakan atlet paling komersial milik Under Armour, sehingga perusahaan mungkin kesulitan merekrut bintang besar baru, khususnya di ranah bola basket.
Di sisi lain, Under Armour masih memiliki beberapa atlet besar di luar basket, seperti pelari maraton Sharon Lokedi, quarterback Tennessee Titans Cam Ward, dan bintang WNBA Nika Muhl. (hm16)
PREVIOUS ARTICLE
Event SEA U18 dan U20 Athletic Championship Bisa Disaksikan LiveBERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER
























