Infantino Lanjutkan Kampanye Pemilihan Presiden FIFA di Jepang

Presiden FIFA Gianni Infantino menghadiri final Piala Dunia Wanita U-20 antara Spanyol dan Korea Utara di Łódź, Polandia, Minggu (27/9/2026). (foto: Beata Zawrzel/AP)
Tokyo, MISTAR.ID - Gianni Infantino dijadwalkan melanjutkan kampanye untuk kembali terpilih sebagai Presiden FIFA dengan menemui para pemimpin Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) di Tokyo, Jepang, Rabu (21/10/2026). Pertemuan tersebut berlangsung di tengah kritik terhadap rencana komersialisasi Piala Dunia yang sebelumnya diajukan oleh Infantino.
Dikutip dari Associated Press (AP), pertemuan dengan para pemimpin sepak bola Asia itu akan digelar di sebuah hotel bintang lima di Tokyo dengan akses media yang sangat terbatas.
Agenda tersebut berlangsung setelah Infantino menyampaikan permintaan maaf kepada 37 anggota Dewan FIFA di Zurich, Swiss, pekan lalu. Dia meminta maaf atas sejumlah “kesalahan” dalam menyusun rencana penjualan hak komersial Piala Dunia senilai 4,2 miliar dolar AS yang kini telah dibatalkan.
Dewan FIFA merupakan badan pengambil keputusan utama organisasi sepak bola dunia tersebut.
Presiden AFC Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa sebelumnya menunjukkan penolakan terhadap Infantino dan rencananya membentuk anak perusahaan untuk mengelola Piala Dunia. Namun, menurut laporan The Athletic yang dikutip AP, Sheikh Salman disebut-sebut mulai mendekat kepada Infantino.
Sebagai respons terhadap kritik yang muncul, Infantino menawarkan peninjauan terbuka dan independen terhadap proses pengambilan keputusan di FIFA.
Infantino membutuhkan dukungan mayoritas sederhana dari 211 federasi anggota FIFA untuk kembali terpilih dalam pemilihan presiden yang dijadwalkan berlangsung pada Maret mendatang. Berdasarkan penghitungan AP, sebanyak 87 federasi telah menyatakan dukungan kepada Infantino, baik melalui pernyataan langsung maupun dengan mendukung sikap konfederasi regional masing-masing.
Sebagian suara penentu berasal dari Asia. Namun, dukungan di kawasan tersebut belum sepenuhnya solid.
AFC sebelumnya turut mengkritik Infantino setelah munculnya rencana penjualan hak komersial Piala Dunia. Di sisi lain, Qatar, yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, telah menyatakan dukungan kepada pemimpin FIFA tersebut. Sementara itu, Yordania secara terbuka menyatakan penolakan.
Blok oposisi terbesar terhadap Infantino berasal dari Eropa, menurut penghitungan AP. Dewan FIFA dijadwalkan kembali menggelar pertemuan pada 16 Desember di Doha, Qatar.
Sejak 1974, belum pernah ada presiden petahana FIFA yang kalah dalam pemilihan. Batas waktu bagi kandidat lain untuk mengajukan pencalonan melawan Infantino ditetapkan pada 18 November.
Berdasarkan aturan FIFA, kandidat presiden harus memiliki pengalaman aktif di sepak bola, misalnya sebagai pemain atau pejabat di FIFA, konfederasi, maupun asosiasi sepak bola, selama setidaknya dua dari lima tahun sebelum pencalonan diajukan. Kandidat juga harus memperoleh pernyataan dukungan dari sedikitnya lima dari 211 federasi anggota FIFA.
Meski demikian, sistem pendanaan dan distribusi uang FIFA kepada federasi anggota mendapat sorotan.
Jules Boykoff, ilmuwan politik dari Pacific University sekaligus mantan pesepak bola profesional, mengatakan kepada AP bahwa FIFA merupakan jaringan patronase berskala besar.
“FIFA adalah jaringan patronase yang masif,” kata Boykoff, merujuk pada pendapatan miliaran dolar dari Piala Dunia putra yang kemudian didistribusikan kepada asosiasi sepak bola di berbagai negara sebagai imbalan atas loyalitas.
Boykoff menambahkan, dana yang disalurkan FIFA kepada organisasi sepak bola di seluruh dunia seharusnya digunakan untuk mengembangkan olahraga tersebut. Namun, menurut dia, pengawasan terhadap penggunaan dana itu masih sangat terbatas.
Dia menilai kebutuhan FIFA untuk melakukan perubahan struktural jauh lebih besar daripada yang selama ini diakui. (*)
PREVIOUS ARTICLE
CR7 Diskorsing 30 Hari Usai Tinggalkan Kamp Timnas Portugal



































