Terungkap! Jejak Perakitan Bom Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta dan Reaksi Mengejutkan Sang Ayah

SMAN 72 Jakarta di Kelapa Gading. (foto:cna/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Ledakan yang mengguncang masjid SMAN 72 Jakarta pada Jumat (7/11/2025) bukan hanya memicu kepanikan di lingkungan sekolah, tetapi juga membuka tabir mengejutkan: pelakunya adalah seorang pelajar yang merakit bom dari bahan yang dibeli secara online. Dalam penyelidikan, terkuak bagaimana bahan peledak itu diperoleh, proses perakitannya, serta respons keluarga yang tak pernah menyangka.
Ayah Pelaku Tak Menyangka: “Anak Saya Pendiam…”
Pihak keluarga mengaku terpukul. Ayah pelaku mengatakan bahwa putranya dikenal pendiam dan tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan. Ketika paket bahan kimia tiba di rumah, ia tak menaruh curiga karena anaknya menyebut itu sebagai perlengkapan kegiatan ekstrakurikuler sekolah.
Kesaksian ini memperlihatkan bagaimana komunikasi dalam keluarga bisa menjadi celah besar ketika anak mampu menyembunyikan aktivitas berbahaya di balik rutinitas sekolah.
Beli Bahan Bom secara Online: Antara Celah Regulasi dan Kemudahan Akses
Penyelidikan kepolisian mengungkap bahwa pelaku membeli bahan utama—termasuk potassium chloride—melalui platform e-commerce.
Barang-barang itu dikirim seperti pesanan biasa dan tidak menimbulkan kecurigaan.
Dari olah TKP dan penggeledahan rumah, polisi menemukan sisa bahan peledak low explosive yang identik, paku sebagai pecahan (shrapnel), baterai, komponen elektronik, dan receiver yang menjadi bagian pemicu.
Fakta bahwa seorang remaja dapat membeli material sensitif tanpa hambatan menunjukkan adanya lubang besar dalam regulasi penjualan bahan kimia di platform daring.
Perakitan Bom Dilakukan di Rumah
Tim forensik memastikan bahwa bom dirakit di kediaman pelaku. Kecocokan bahan, alat, dan sisa komponen memperkuat dugaan bahwa tindakan ini telah direncanakan, bukan impulsif.
Namun, pelaku belum menjalani pemeriksaan penuh karena masih dalam masa pemulihan. Statusnya kini sebagai anak berkonflik dengan hukum (ABH), sehingga penanganannya mengikuti Undang-Undang Perlindungan Anak.
Perkembangan Terkini: Polisi Dalami Sumber Bahan dan Potensi Jaringan
Hingga kini, aparat masih menelusuri asal-usul bahan kimia, apakah pemasok mengetahui potensi penyalahgunaan, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain, meski indikasi awal menyebut pelaku bergerak sendiri.
Kasus ini menyoroti pentingnya pengawasan e-commerce, terutama penjualan zat-zat yang dapat berfungsi sebagai bahan peledak, meski secara hukum masih tergolong barang bebas.
Alarm bagi Dunia Pendidikan, E-Commerce, dan Orang Tua
Ledakan di SMAN 72 menjadi pukulan keras bagi Indonesia:
- Bagaimana seorang siswa bisa mengakses bahan berbahaya tanpa terdeteksi?
- Mengapa sekolah tidak melihat tanda-tanda awal?
- Dan bagaimana marketplace dapat memperjualbelikan barang yang dapat disalahgunakan untuk tindakan ekstrem?
Selain aspek hukum, peristiwa ini memaksa masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan mental, dinamika sosial remaja, dan keamanan digital, yang kini menjadi lahan subur bagi tindakan ekstrem jika tidak diawasi.
Kesimpulannya, kasus ledakan SMAN 72 bukan hanya kriminalitas berkategori anak, tetapi potret rapuhnya sistem pengawasan di ranah keluarga, sekolah, dan digital. Kombinasi akses bebas bahan kimia, celah marketplace, dan minimnya deteksi dini membuat tragedi ini bisa terjadi.
Penegakan hukum berjalan, tetapi pertanyaannya lebih besar: bisakah peristiwa serupa dicegah di masa depan?
(berbagaisumber/ai/hm27)
BERITA TERPOPULER
























