Survei Median: 85,3% Responden Sebut Faktor Manusia Penyebab Banjir Sumatra

Survei nyatakan banjir Sumatra faktor manusia. (Foto: AFP/Aditya Aji)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Survei yang dilakukan oleh Median menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa faktor manusia menjadi penyebab utama banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra baru-baru ini. Survei ini dilakukan antara 9-13 Januari 2026 dengan 1.000 responden pengguna media sosial.
"Faktor manusia dianggap lebih dominan sebagai penyebab bencana, sekitar 85,3 persen, sementara faktor alam hanya 14,5 persen," kata Direktur Median, Rico Marbun, dalam keterangan pers yang disampaikan pada Selasa (20/1/2026).
Rico menjelaskan bahwa lebih dari 66 persen responden menyebutkan deforestasi atau penggundulan hutan sebagai faktor utama yang memicu banjir. Selain itu, alih fungsi lahan dan aktivitas tambang ilegal turut disebutkan, masing-masing oleh 6,3 persen dan 4,4 persen responden. Sementara itu, ekspansi perkebunan sawit disorot oleh 3,8 persen responden sebagai penyebab bencana tersebut.
Meskipun curah hujan ekstrem dianggap sebagai faktor penyebab oleh 11,5 persen responden, faktor alam lainnya seperti perubahan iklim global dan erosi tanah disebutkan oleh jumlah responden yang lebih kecil.
Tanggapan Publik terhadap Penanganan Bencana
Survei ini juga mengukur tingkat kepuasan publik atas penanganan bencana oleh pemerintah pusat. Hasilnya, 38,3 persen responden menyatakan puas, sementara mayoritas, yaitu 59,0 persen, merasa tidak puas dengan respons pemerintah.
Beberapa alasan ketidakpuasan masyarakat antara lain lambatnya penanganan bencana (26,8 persen), kurangnya bantuan yang memadai (10,4 persen), dan distribusi bantuan yang tidak merata (2,8 persen). Sementara itu, bagi mereka yang puas, 16,1 persen menganggap pemerintah telah merespons dengan baik, dan 5,2 persen merasa bantuan logistik sudah lengkap.
Status Bencana Nasional
Sebanyak 86,7 persen responden setuju bahwa banjir Sumatra seharusnya ditetapkan sebagai bencana nasional. Banyak yang menilai dampak bencana tersebut sangat luas, sementara sebagian kecil merasa pemerintah daerah sudah mampu menangani bencana ini tanpa bantuan pusat.














