Friday, June 5, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Hari Raya Nyepi 2026: Ini 4 Larangan Catur Brata Penyepian yang Wajib Dipatuhi

Mistar.idRabu, 18 Maret 2026 21.41
journalist-avatar-top
hari_raya_nyepi_2026_ini_4_larangan_catur_brata_penyepian_yang_wajib_dipatuhi

Ilustrasi merayakan Hari Raya Nyepi 2026 (Foto: Istimewa/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Perayaan Hari Raya Nyepi pada tahun 2026 jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026. Momen sakral ini menandai Tahun Baru Saka 1948 dan berlangsung selama 24 jam penuh, mulai pukul 06.00 WITA hingga keesokan harinya.

Selama Nyepi, seluruh aktivitas di ruang publik dihentikan total, khususnya di Bali. Bandara ditutup, lalu lintas jalan raya sepi, serta pusat perbelanjaan dan tempat wisata tidak beroperasi. Bahkan wisatawan diwajibkan tetap berada di area penginapan.

Nyepi menjadi waktu bagi umat Hindu untuk berdiam diri, bermeditasi, dan melakukan introspeksi guna memperbaiki diri secara spiritual.

Catur Brata Penyepian: 4 Larangan Utama

Dalam pelaksanaannya, umat Hindu wajib menjalankan empat pantangan yang dikenal sebagai Catur Brata Penyepian. Berikut penjelasannya:

1. Amati Geni

Larangan menyalakan api, lampu, atau perangkat elektronik. Api melambangkan emosi negatif seperti amarah dan keserakahan yang harus dikendalikan.

2. Amati Karya

Larangan melakukan aktivitas atau pekerjaan, baik di dalam maupun di luar rumah. Waktu ini digunakan untuk refleksi diri dan evaluasi kehidupan.

3. Amati Lelungan

Larangan bepergian ke luar rumah. Umat Hindu diharapkan tetap berada di rumah untuk fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

4. Amati Lelanguan

Larangan mencari hiburan atau kesenangan duniawi. Semua bentuk hiburan dihentikan agar umat dapat lebih khusyuk dalam menjalankan ibadah.

Momentum Hening dan Introspeksi

Selama Nyepi, suasana Bali berubah menjadi sangat tenang. Tidak ada aktivitas ekonomi, hiburan, maupun perjalanan. Sebagian umat Hindu juga menjalankan tapa atau puasa sebagai bentuk pengendalian diri.

Hari Raya Nyepi bukan sekadar tradisi, tetapi juga momentum penting untuk mencapai keseimbangan batin dan memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN