Friday, October 9, 2026
home_banner_first
NASIONAL

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Wisatawan Dilarang Mendekat

Mistar.idJumat, 9 Oktober 2026 pukul 10.14 WIB
gunung_anak_krakatau_kembali_erupsi_wisatawan_dilarang_mendekat

Ilustrasi. (Foto: Instagram BPBD Lampung)

news_banner

Lampung Selatan, MISTAR.ID - Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda kembali mengalami erupsi pada Kamis (8/10/2026) petang. Letusan berlangsung selama sekitar 4 menit 45 detik, dengan tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut.

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi terjadi sekitar pukul 18.28 WIB. Aktivitas letusan terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 46 milimeter.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Suwarno, mengatakan erupsi tersebut menunjukkan masih adanya energi vulkanik yang dilepaskan dari tubuh gunung.

“Benar, tadi memasuki petang GAK erupsi dengan durasi hampir 5 menit lamanya. Aktivitas ini sama seperti kemarin, jadi masih ada sisa energi pascaerupsi besar di September kemarin,” katanya.

Menurut Suwarno, perkembangan aktivitas gunung terus dipantau melalui rekaman kegempaan dan pengamatan visual dari pos pemantauan. Namun, abu vulkanik belum dapat teramati karena kondisi gunung tertutup kabut.

Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level II atau Waspada. Status tersebut turun dari Level III atau Siaga pada 21 September 2026.

Meski statusnya menurun, masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawasan gunung dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif selama aktivitas vulkanik masih berlangsung.

“Untuk status GAK saat ini masih berstatus Level II atau Waspada, belum ada peningkatan status. Kami meminta masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak mendekati gunung tersebut atau melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif,” ujar Suwarno.

Sementara itu, Dosen Teknologi Geologi Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Happy Christin Natalia, menilai erupsi yang masih terjadi dapat berkaitan dengan pelepasan sisa energi setelah aktivitas erupsi besar pada September lalu.

Menurut Happy, intensitas erupsi saat ini menunjukkan pola yang umum terjadi pada gunung api aktif setelah mengalami erupsi besar. Meski aktivitas mulai mendekati fase stabil, energi vulkanik di sekitar lubang kepundan diduga masih tersisa.

“Kalau dilihat dari intensitasnya, tampak seperti aktivitas umum yang terjadi pada gunung api aktif pascaerupsi besar,” kata Happy, Rabu (7/10/2026).

Ia menjelaskan, erupsi kecil dengan intensitas yang berubah-ubah masih mungkin terjadi selama Gunung Anak Krakatau belum sepenuhnya stabil. Salah satu indikator menuju kondisi stabil adalah menurunnya aktivitas kegempaan vulkanik.

Karena itu, pemantauan aktivitas gunung terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi vulkanik dan mengantisipasi potensi bahaya bagi masyarakat di sekitar Selat Sunda. (hm25)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN