15.2 C
New York
Thursday, May 16, 2024

Game Online Berpotensi Merusak Karakter Anak, Pemerintah Buat Aturan

Jakarta, MISTAR.ID

Kehadiran game online yang sangat mudah dijangkau anak-anak menjadi masalah besar untuk generasi Indonesia. Pemerintah pun melihat game online sangat berpotensi untuk membunuh karakter atau mental anak-anak dan membuat anak condong terhadap kekerasan, pelecehan, pornografi dan seksual.

Mencegah masalah itu jangan terjadi, pemerintah segera merampungkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang perlindungan anak dari game online. Aturan ini bertujuan untuk mengawasi game online atau konten yang mengandung kekerasan. Bahkan pemerintah akan memblokir konten yang melanggar seperti Free Fire.

Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nahar mengatakan, progres saat ini sudah di tahap harmonisasi antara kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah sehingga tugas dan fungsi serta kewenangannya tidak tumpang tindih.

Baca juga: Tiru Game Online, Remaja di Kaltim Tewas Ditembak Teman

“Pengaruhnya banyak dan sangat kompleks. Risiko yang dihadapi termasuk konten, perilaku, kontak fisik, perilaku konsumen. Konten-konten tidak sesuai dengan rating usia anak-anak. Ini -Free Fire- yang harusnya diperketat dan diawasi, mengingat risiko-risiko dari perkembangan perilaku yang dapat membahayakan dan mempengaruhi anak-anak,” kata Nahar, Rabu (17/6/24).

Psikolog Stenny Prawitasari sependapat dengan pemerintah. Ia menilai banyak game seperti Free Fire sangat berisiko mempengaruhi kesehatan mental dan emosional anak-anak. Sebab, game tersebut mengandung kekerasan.

Menurutnya, bermain game seperti itu secara berulang dapat membuat seorang anak kurang peka terhadap konsekuensi nyata dan kelak dapat menirunya dalam kehidupan nyata

Beberapa penelitian, kata Stenny, telah menunjukkan korelasi antara bermain game dan peningkatan agresi pada anak-anak.

Dalam lingkungan yang kompetitif seperti game bergenre battle royale, anak-anak lebih rentan terhadap perilaku agresif untuk marah akibat kalah dan condong mengekspresikannya dengan perkataan atau kalimat kasar.

Baca juga: Anak Kecanduan Main Game, Begini Cara Mengatasinya

Game tersebut juga diyakini dapat menyebabkan keterlambatan dalam perkembangan keterampilan sosial dan kemampuan berkomunikasi anak-anak. Untuk itu, pemerintah perlu memberikan perhatian secara serius terhadap game online yang merusak pertumbuhan anak-anak.

Langkah yang tepat, kata Stenny adalah perlu memperketat aturan dan regulasi yang mengatur penggunaan game online, khususnya bagi kalangan anak-anak.

“Pembatasan akses dan pengawasan terhadap konten game yang mengandung kekerasan dan tidak sesuai dengan usia anak perlu diperkuat untuk melindungi generasi mendatang dari potensi dampak negatif,” katanya. (cnn/hm17)

 

Related Articles

Latest Articles