SPPG Sudirejo Klarifikasi, Perekrutan Relawan Sudah Sesuai Juknis

Puluhan warga setempat mendatangi SPPG Sudirejo Medan Kota 007 untuk menyampaikan aspiras dan kekecewaannya (foto:Susan/Mistar)
Medan, MISTAR.ID
Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Sudirejo Medan Kota 007 memberikan klarifikasi terkait protes warga yang menilai proses rekrutmen relawan kurang memprioritaskan masyarakat setempat.
Deni, pihak SPPG Sudirejo, mengatakan hari ini dijadwalkan pertemuan dengan relawan yang telah diterima untuk persiapan operasional dapur yang dimulai 31 Maret 2026. Namun, puluhan warga yang sebelumnya melamar tapi tidak diterima datang ke lokasi untuk menyampaikan kekecewaannya.
“Warga setempat tidak terima. Mereka ingin pekerja relawan semuanya dari sini (Jalan Turi),” ujar Deni, Kamis (26/3/2026).
Baca Juga: Ratusan SPPG Sumut Ditutup Sementara, Bobby Nasution Tegaskan: Program Presiden Jangan Dimainkan
Proses Rekrutmen Berdasarkan Juknis
Deni menegaskan proses rekrutmen dilakukan sesuai petunjuk teknis (juknis), yang mewajibkan minimal 30 persen tenaga kerja berasal dari warga setempat, sedangkan sisanya dapat berasal dari luar.
“Yang kita ambil sudah lebih dari 30 persen, bahkan hampir separuh. Tapi mereka tetap ngotot semuanya harus dari sini,” jelasnya.
Dari total 47 relawan yang direkrut, sekitar 20–21 orang merupakan warga Jalan Turi.
“Relawan dari sini sudah 20-an orang. Kita ada bukti, ada data,” tambahnya.
Perbedaan persepsi kemungkinan muncul karena informasi yang tidak lengkap saat proses awal rekrutmen. Deni juga menyebut kemungkinan ada provokasi saat penerimaan, sehingga beberapa karyawan menjanjikan penerimaan semua pelamar dari warga setempat.
Evaluasi Ulang Rekrutmen
Pihak SPPG membuka kemungkinan evaluasi ulang terkait tuntutan warga.
“Mungkin nanti kita perbarui, evaluasi lagi. Setelah evaluasi, mungkin ada beberapa lagi yang kita rekrut dari warga setempat,” ujar Deni.
Penjelasan Tugas dan Kualifikasi
Terkait kabar bahwa posisi pencuci ompreng harus ahli, Deni menjelaskan operasional dapur membutuhkan koordinasi sehingga beberapa posisi memerlukan pemahaman dasar.
“Kan ada koordinasinya. Tetap di bagian itu harus ada orang yang ahli, untuk menuntun pekerjaan. Tapi tidak semua harus bersertifikat. Sertifikat hanya diperlukan untuk chef yang memasak,” tuturnya.
Deni menegaskan tidak ada syarat sertifikat bagi relawan pada bagian pemorsian, kebersihan, maupun pencucian ompreng.
BERITA TERPOPULER























