Friday, June 5, 2026
home_banner_first
MEDAN

Pembelajaran Daring Dinilai Belum Urgen untuk Sekolah, Pengamat: Tatap Muka Lebih ‘Deep Learning’

Mistar.idJumat, 27 Maret 2026 20.55
journalist-avatar-top
SH
pembelajaran_daring_dinilai_belum_urgen_untuk_sekolah_pengamat_tatap_muka_lebih_deep_learning

Guru sedang mengajar murid Sekolah Rakyat Menengah Pertama 2 di Medan. (foto: Susan/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Wacana pembelajaran daring di tengah isu efisiensi energi dinilai belum mendesak untuk diterapkan pada sekolah. Pengamat pendidikan Sumatera Utara (Sumut), Jholant Bringg Luck Amelia Sinaga, menegaskan pembelajaran tatap muka masih memiliki keunggulan signifikan, terutama dalam kualitas pemahaman dan pembentukan karakter siswa.

Akademisi dari Universitas Prima Indonesia itu menyebutkan, pembelajaran tatap muka unggul dalam interaksi sosial dan emosional. “Kita sebagai guru bisa langsung melihat ekspresi siswa, kontrol dan disiplin belajar juga lebih terjaga,” ujarnya kepada Mistar, Jumat (27/3/2026).

Namun, ia mengakui metode tatap muka memiliki kekurangan, seperti biaya operasional yang mencakup transportasi, listrik, hingga kebutuhan harian siswa. Sementara itu, pembelajaran daring menawarkan fleksibilitas tinggi, efisiensi waktu, serta akses sumber belajar yang lebih luas.

“Di sisi lain, daring punya kekurangan seperti penurunan engagement dan kesulitan dalam kontrol serta evaluasi kejujuran siswa,” katanya.

Menurutnya, perbedaan antara pembelajaran tatap muka dan daring sangat signifikan. Dari sisi kualitas pemahaman, pembelajaran tatap muka dinilai mampu menghasilkan deep learning (pembelajaran mendalam), sedangkan daring cenderung lebih dangkal.

Selain itu, tingkat keterlibatan siswa dalam pembelajaran tatap muka juga lebih tinggi dibandingkan daring yang bersifat fluktuatif tergantung motivasi dan desain pembelajaran.

Dosen yang akrab disapa Yolan itu juga menyoroti aspek sosial dan karakter, di mana pembelajaran tatap muka dinilai mampu membentuk soft skill seperti kerja sama dan empati, sementara daring dinilai terbatas dalam aspek tersebut, meski dapat melatih kemandirian belajar atau self regulated learning.

Belajar dari pengalaman masa pandemi Covid-19, Yolan mengungkapkan munculnya fenomena learning loss. Hal ini disebabkan belum meratanya kesiapan guru dalam pedagogi digital serta keterbatasan efektivitas pembelajaran daring.

“Makanya banyak orang tua sekarang mengeluh, menyebut anak-anak sebagai ‘anak covid’, karena dianggap kurang empati dan pengetahuannya dangkal,” tutur Yolan.

Ia menambahkan, pembelajaran daring sebenarnya bisa efektif jika didukung infrastruktur memadai dan desain pembelajaran yang interaktif, termasuk kombinasi metode sinkron dan asinkron.

Meski demikian, ia menilai penerapan pembelajaran daring secara penuh dengan alasan efisiensi energi kurang tepat untuk level sekolah. “Fungsi sekolah bukan hanya akademik, tapi juga membantu pembentukan karakter dan interaksi sosial,” ucapnya.

Sebaliknya, ia menilai kebijakan serupa lebih fleksibel diterapkan pada kalangan ASN karena kinerja mereka dapat diukur secara digital.

Sebagai solusi, ia merekomendasikan model pembelajaran hybrid. Dalam skema ini, tatap muka difokuskan pada diskusi, praktik, dan pembentukan karakter, sementara materi teori dapat dilakukan secara daring, dengan pengayaan dan fleksibilitas.

“Jadi bukan hanya zoom, tapi juga mungkin ada materi sinkron dan asinkron yang mereka bisa akses modul itu kapan pun untuk dibaca ulang,” katanya.

Yolan juga menekankan, bahwa model pembelajaran hybrid lebih tepat karena self regulated learning di Indonesia yang dinilai belum sepenuhnya siap. Budaya belajar di Indonesia masih teacher-centered, di mana siswa cenderung menunggu arahan dan kurang inisiatif.

Ia juga menyoroti minimnya kemampuan siswa dalam perencanaan, monitoring, dan refleksi saat pembelajaran daring, yang menyebabkan mereka hanya hadir tanpa benar-benar belajar.

“Jadi menurut saya, langkah full daring 100 persen untuk siswa itu kurang tepat,” ucapnya.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN