Friday, June 5, 2026
home_banner_first
MEDAN

Jejak Sejarah Medan: Dari Kota Perkebunan Menjadi Paris van Sumatra yang Modern

Mistar.idSenin, 13 Oktober 2025 05.30
journalist-avatar-top
AA
jejak_sejarah_medan_dari_kota_perkebunan_menjadi_paris_van_sumatra_yang_modern

Winkelstraat Kesawan te Medan, Sumatra's Oostkust, 1930 (Jalan Jend Ahmad Yani Medan, 1930). (Foto: istimewa)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Nama Kota Medan tak bisa dilepaskan dari narasi ekonomi perkebunan. Namun, di balik geliat komoditas, terdapat kisah transformasi pesat yang mengubah sebuah kampung di pertemuan dua sungai menjadi sentrum modern yang disejajarkan dengan kota-kota kolonial terbesar di Asia. Jejaknya masih terlihat pada setiap bangunan bersejarah (heritage) yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kota.

Menurut Kiki Maulana Affandi, Dosen Ilmu Sejarah di Universitas Sumatera Utara (USU), fondasi Medan sebagai kota modern diletakkan oleh baron-baron perkebunan.

“Sejarah Kota Medan tidak bisa dilepaskan dengan perkembangan perkebunan,” kata Kiki tegas dalam acara Heritage Talks yang dilaksanakan secara daring, Minggu (12/10/2025).

Ia menyebut bahwa hampir semua peninggalan bersejarah dari Gedung Lonsum, Kesawan, Balai Kota, Lapangan Merdeka, hingga Istana Maimun dan Masjid Raya berkaitan erat dengan investasi dan pengaruh pengusaha perkebunan Belanda.

Bahkan, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, pengaruh para baron ini begitu besar. Kiki mengatakan, mereka justru lebih dihormati oleh warga kota ketimbang pemerintah itu sendiri.

Perkembangan Medan berawal dari kedatangan pengusaha Belanda, Jacobus Nienhuys, yang bekerja sama dengan Sultan Deli untuk mendapatkan konsesi lahan perkebunan. Pusat kekuasaan Kesultanan Deli yang awalnya berada di pesisir, Labuhan Deli, pun bergeser.

Medan dipilih sebagai pusat ekonomi karena lokasinya di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura memiliki dataran yang lebih tinggi dan dianggap bebas banjir pada masa itu. Seiring berkembangnya perkebunan, kronologi transformasi Medan sebagai kota modern berlanjut.

  1. Tahun 1879: Pemindahan ibu kota Afdeeling Deli.
  2. Tahun 1886: Pembentukan Gemeente Fonds (Negoriraads).
  3. Tahun 1887: Medan sebagai ibu kota Keresidenan Sumatera Timur.
  4. Tahun 1892: Ibu kota Kesultanan Deli pindah dari Labuhan Deli ke Medan.
  5. Tahun 1909: Perluasan wilayah kota dan penetapan wali kota definitif.
  6. Tahun 1918: Pendirian Gemeente Medan (perangkat aparatur kota kolonial).

“Medan ini tumbuh disesuaikan dengan perkembangan ekonomi dan perkembangan infrastruktur. Laju perkembangan kota sangat dipengaruhi oleh kekuatan ekonomi perkebunan,” ucap Kiki.

Paris van Sumatra yang Terancam Lupa

Pada fase awal abad ke-20, Medan tumbuh pesat. Kota ini dijuluki “Paris van Sumatra” karena kemajuan dan arsitektur kotanya yang luar biasa.

“Medan itu pertumbuhannya pada fase itu disejajarkan dengan Kota Singapura. Betapa pentingnya Medan dalam peta kolonialisme Belanda di Sumatra,” ujarnya.

Kawasan Kesawan menjadi etalase kemajuan ini, terlihat dari perbedaan dramatis foto Kesawan di abad ke-19 dan setelah tahun 1900-an. Namun, Kiki menyuarakan keprihatinan atas nasib heritage kota.

“Kita sudah banyak mengalami perubahan bangunan heritage, kemudian kita kehilangan identitas dan memori terhadap heritage Kota Medan itu seperti apa,” tuturnya.

Ia mencontohkan kondisi Stasiun Kereta Api yang berubah total karena pembangunan, hingga kondisi Istana Maimun saat ini yang dinilai memprihatinkan. Revitalisasi memang terjadi, seperti pada Warenhuis, namun upaya pelestarian harus terus berlanjut agar julukan Paris van Sumatra tidak tinggal kenangan.

Membaca sejarah kota, menurut Kiki, tidak hanya membahas fisiknya, tetapi juga orang-orang yang ada di dalamnya. Medan sejak 100 tahun lalu telah menjadi kota yang sangat plural, diisi oleh: Eropa, Tionghoa, India (Tamil, Benggali), Arab, dan Pribumi (Melayu, Batak, Minangkabau, Jawa, Aceh, dan lainnya).

Keberagaman ini diatur oleh kebijakan kolonial yang membentuk kantong-kantong permukiman (wijkstelsel), yang jejaknya masih dapat dilihat hingga kini:

Jalan Zainul Arifin: Kantong permukiman dan pusat aktivitas warga India (terdapat Masjid Khauliyah dan Kuil Sri Mariamman).

Kota Maksum: Tempat warga Melayu dan Minangkabau.

Kampung Aur, Glugur, Sei Mati, Kampung Baru: Kawasan yang banyak dihuni orang Mandailing.

Pinggiran kota/perkebunan: Lokasi eksisnya warga Jawa.

Pajak Ikan (dahulu): Tempat berdagang orang-orang Arab.

“Jadi, sebenarnya apa yang kita lihat sekarang itu juga dulunya memang eksis, dan diatur oleh pemerintah kolonial Belanda pada waktu itu,” katanya.

Keberagaman warga inilah yang menjadi jiwa kota, melengkapi kisah Medan sebagai kota modern yang dibangun di atas pondasi ekonomi perkebunan dan arsitektur kolonial. Sejarah ini penting untuk dibaca kembali agar warga kota tidak kehilangan memori kolektifnya.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN