IHSG Anjlok di Bawah 5.000 dan Rupiah Tembus Rp18.000 Imbas Isu Penurunan Status oleh MSCI

Visual menggambarkan tekanan di lantai Bursa Efek Indonesia. Layar IHSG anjlok ke 4.961, kurs Rupiah/USD 18.040 melemah, dan isu penurunan status oleh MSCI sebagai pemicu. (Foto: maris/meta/mistar.id)
Medan, MISTAR.ID (19/10/2026) — Pasar keuangan domestik masih mendapat tekanan berat di awal pekan, meski otoritas dan sejumlah pejabat tinggi sempat mendatangi Bursa Efek Indonesia (BEI).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau anjlok lebih dari 5 persen, sementara nilai tukar rupiah juga tidak mampu menahan sentimen negatif global dan domestik.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatra Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan gelombang koreksi ini berasal dari sentimen rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mempertimbangkan penurunan klasifikasi bursa saham Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).
"Rencana perubahan status itu yang menimbulkan kekhawatiran pasar saham domestik setara dengan Jamaika," katanya, Senin (19/10/2026).
Merespons tekanan jual yang terjadi pada akhir pekan lalu, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberlakukan penyesuaian batas auto rejection bawah (ARB) dari 8 persen menjadi 7 persen. Aturan tersebut berlaku hingga 31 Desember 2026.
Sejumlah tokoh penting, mulai dari petinggi legislatif hingga Kapolri, sempat mendatangi gedung BEI sebagai upaya pemerintah meminimalkan kekhawatiran pelaku pasar. Meski berbagai upaya telah dilakukan, tekanan di pasar keuangan pada perdagangan awal pekan ini tetap tidak terhindarkan.
"Mayoritas bursa saham di Asia bergerak di zona merah. IHSG melemah tajam ke level 4.961 dan terus turun mendekati 4.600," ucapnya.
Tekanan diperparah oleh kenaikan harga minyak mentah dunia. Pagi ini, minyak mentah jenis Brent sempat menyentuh kisaran 107,9 dolar AS per barel, setelah nyaris menembus 110 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak mentah ini menjadi pemicu negatif bagi rupiah. Nilai tukar rupiah ditransaksikan melemah di posisi Rp18.040 per dolar AS, sejalan dengan ekspektasi pasar terkait bank sentral global yang cenderung mempertahankan kebijakan suku bunga ketat (hawkish).
"Pemerintah dan otoritas harus mewaspadai potensi pelemahan lanjutan pada rupiah. Ancaman penurunan status pasar saham berisiko memicu kehilangan modal asing (capital outflow). Terlebih, situasi ini dibarengi tekanan jual di pasar surat utang global dan ketidakpastian geopolitik yang memburuk," ujarnya.
Jika pasar modal mengalami tekanan likuiditas akibat berkurangnya investor asing, instrumen penyeimbang di sektor keuangan semakin minim.
"Kalau penyeimbang minim, efektivitas penopang untuk meredam pelemahan rupiah menjadi terbatas. Ini menuntut kewaspadaan tinggi agar pasar surat utang domestik tidak harus mengompensasi risiko dengan imbal hasil yang terlalu tinggi," tuturnya.(hm02)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER







































