Friday, June 5, 2026
home_banner_first
MEDAN

Gajah Sumatra Ratna Mati, Alami Gangguan Fungsi Organ Vital

Mistar.idKamis, 12 Februari 2026 16.19
journalist-avatar-top
SH
gajah_sumatra_ratna_mati_alami_gangguan_fungsi_organ_vital

Gajah Sumatra betina bernama Ratna yang dirawat di R Zoo & Park dinyatakan mati (foto:dok BBKSDA Sumut/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Gajah Sumatra betina bernama Ratna yang dirawat di R Zoo & Park, dinyatakan mati setelah mengalami gangguan serius pada fungsi organ vital. Hasil pemeriksaan medis menyimpulkan kegagalan fungsi ginjal dan hati menjadi penyebab utama kematian satwa berusia sekitar 50 tahun tersebut.

Ratna mati pada Sabtu (7/2/2026) saat menjalani perawatan intensif oleh tim dokter hewan yang dipimpin drh Anhar Lubis. Berdasarkan evaluasi klinis, uji laboratorium, hingga hasil bedah bangkai atau nekropsi, diketahui bahwa gangguan fungsi ginjal dan hati disertai komplikasi pada organ lain seperti jantung dan saluran pencernaan memperburuk kondisi Ratna secara bertahap.

Satwa jenis Elephas maximus sumatrensis itu tiba di R Zoo & Park pada 29 September 2025 bersama tiga gajah lainnya. Sejak awal kedatangan, kondisi tubuhnya teridentifikasi kurang ideal atau kurus. Selain faktor usia lanjut, Ratna juga mengalami luka menahun berupa fistula pada telapak kaki depan kiri yang memerlukan penanganan medis khusus.

Dalam proses perawatan, terdapat sejumlah tantangan dalam penanganan Ratna karena karakter satwa yang tidak mudah ditangani seperti gajah lainnya. Setiap tindakan medis pada luka fistula harus dilakukan melalui prosedur pembiusan guna menjamin keselamatan dan efektivitas penanganan.

Dalam masa adaptasi di lingkungan baru, pada 30 Oktober 2025 terdeteksi adanya udema pada bagian abdomen. Penanganan awal berupa pemberian vitamin dan terapi suportif dilakukan pada 12 November 2025 dan menunjukkan perkembangan perbaikan secara bertahap.

Namun, kondisi luka fistula kembali mengalami peradangan pada 1 Januari 2026. Dan pada 11 Januari 2026, terjadi pengelupasan kulit di sekitar area luka, sehingga tim medis bersama manajemen R Zoo & Park merekomendasikan tindakan lanjutan karena penanganan sebelumnya dinilai belum tuntas.

Pasca penanganan lanjutan oleh tim dokter gabungan, luka menunjukkan progres pemulihan meski belum optimal. Untuk memastikan kondisi fisiologis Ratna, dilakukan pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan adanya gangguan fungsi ginjal. Selama perawatan lebih lanjut, nafsu makan dan minum Ratna juga menurun. Pemeriksaan darah selanjutnya mengindikasikan gangguan fungsi hati.

Drh Anhar menjelaskan gangguan fungsi ginjal pada Ratna diduga bersifat multifaktorial. Kondisi fisik awal yang kurang baik serta faktor usia lanjut dinilai membatasi kemampuan organ, khususnya ginjal dan hati, dalam mengolah asupan nutrisi.

“Akumulasi dari berbagai faktor itu menyebabkan penurunan fungsi organ secara bertahap hingga kondisi umum memburuk dan akhirnya Ratna tidak dapat bertahan,” katanya dalam keterangan resminya, Kamis (12/2/2026).

Sementara itu, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDA Sumut), Novita Kusuma Wardani, menyampaikan pihaknya bersama manajemen R Zoo & Park serta dokter senior berpengalaman telah melakukan upaya maksimal dalam setiap tahapan penanganan medis sesuai prosedur dan prinsip kesejahteraan satwa.

Ia menegaskan BBKSDA Sumut akan terus memperkuat fungsi pembinaan, pengawasan, serta pendampingan teknis terhadap lembaga konservasi guna memastikan pengelolaan satwa dilindungi berjalan sesuai ketentuan perundang-undangan.

“BBKSDA Sumut terus berkomitmen untuk mengevaluasi dan meningkatkan pengawasan agar standar kesejahteraan satwa di lembaga konservasi tetap terjaga,” ucapnya.

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN