BPS Kerahkan 510 Mahasiswa STIS, Petakan Kerusakan Pascabencana di Sumatera

Inspektorat Utama BPS RI, Dadang Hardiwan saat diwawancarai. (foto: Amita/mistar
Medan, MISTAR.ID
Badan Pusat Statistik (BPS) RI melakukan langkah strategis untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah Sumatera.
Sebanyak 510 mahasiswa Politeknik Statistik STIS dikerahkan dalam kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang difokuskan pada pendataan kerusakan di 15 kabupaten/kota yang tersebar di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat.
Inspektorat Utama BPS RI, Dadang Hardiwan, menjelaskan pengerahan mahasiswa ini merupakan tindak lanjut dari Keputusan Presiden Nomor 1 tahun 2026. Dalam aturan tersebut, BPS ditunjuk sebagai koordinator penyediaan data untuk penanganan dampak bencana di Sumatera.
"Mahasiswa akan melakukan pendataan untuk individu, keluarga, komunal, hingga infrastruktur. Mereka memiliki kompetensi statistik, sehingga kami terjunkan untuk memotret kondisi riil perumahan hingga aset masyarakat di lapangan," kata Dadang saat melepas keberangkatan mahasiswa di Bandara Lanud, Medan, Rabu (14/1/2026).
Untuk wilayah Sumatera Utara, terdapat lima daerah yang menjadi lokus pendataan, yakni Tapanuli Tengah (Tapteng), Tapanuli Utara (Taput), Tapanuli Selatan (Tapsel), Mandailing Natal (Madina), dan Sibolga.
Kegiatan ini akan berlangsung selama 12 hari efektif, mulai dari 14 hingga 27 Januari 2026. Penempatan jumlah personel disesuaikan dengan luas wilayah dan tingkat keparahan bencana. Sebagai contoh, di Tapanuli Tengah saja, BPS mengalokasikan hingga 100 mahasiswa.
"Hasil pendataan ini nantinya akan dipadupadankan dengan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSN). Data final akan kami serahkan kepada Satgas Bencana yang diketuai oleh Mendagri sebagai dasar kebijakan pemerintah," ujarnya.
Wakil Direktur I Politeknik Statistik STIS, Prof Setia Pramana, mengungkapkan PKL kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya mahasiswa membantu kegiatan rutin seperti Sensus Ekonomi, kali ini mereka dikerahkan khusus untuk misi kemanusiaan atas permintaan Presiden.
"Ini pertama kalinya mahasiswa STIS di-deploy langsung untuk mendukung percepatan rehabilitasi pascabencana. Persiapannya cukup cepat karena urgensi di lapangan. Mahasiswa tidak hanya belajar statistik, tetapi memberikan kontribusi nyata bagi kemanusiaan di Aceh Tamiang, Aceh Timur, hingga wilayah Sumut dan Sumbar," ucapnya.
Data yang dikumpulkan mencakup kerusakan fisik bangunan, kondisi sosial ekonomi keluarga, hingga pemetaan infrastruktur publik yang terdampak. Akurasi data dari para mahasiswa calon ahli statistik ini diharapkan mampu meminimalisir kesalahan target dalam penyaluran bantuan rekonstruksi nantinya.
BERITA TERPOPULER
























