Sunday, July 19, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Pola Makan Sehari-hari yang Bisa Picu Depresi

Mistar.idSelasa, 23 Desember 2025 pukul 05.00 WIB
pola_makan_seharihari_yang_bisa_picu_depresi

Ilustrasi. (Foto: Halo Dokter/Mistar)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Pola makan sehari-hari ternyata tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga berpengaruh besar terhadap kesehatan mental.

Salah satu kebiasaan yang kerap luput disadari adalah konsumsi makanan tertentu yang dapat meningkatkan risiko depresi.

Kebiasaan menyantap makanan cepat saji, misalnya, dapat memicu lonjakan gula darah secara cepat. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan perubahan suasana hati yang memburuk, meningkatnya rasa cemas, serta stres. Di sisi lain, jenis makanan ini umumnya miskin nutrisi penting seperti vitamin B, vitamin D, magnesium, dan asam lemak omega-3 yang berperan besar dalam menjaga fungsi otak.

Konsumsi rutin makanan cepat saji dan makanan ultra-olahan disebut sebagai salah satu kebiasaan makan yang berpotensi memicu depresi. Mengutip laporan dari New York Post, sejumlah penelitian menemukan bahwa pola makan semacam ini berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan suasana hati.

Makanan cepat saji dan ultra-olahan umumnya tinggi kalori, lemak, gula, serta garam tambahan. Selain berkontribusi pada obesitas, kebiasaan ini juga meningkatkan risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.

Para pakar kesehatan bahkan memperingatkan bahwa konsumsi berlebihan makanan ultra-olahan dapat dikaitkan dengan gangguan ginjal, penyakit radang usus, hingga beberapa jenis kanker.

Sebuah penelitian terbaru dari Pakistan menunjukkan bahwa individu yang banyak mengonsumsi makanan ultra-olahan memiliki risiko depresi sekitar 20 hingga 50 persen lebih tinggi. Temuan ini dipublikasikan dalam European Medical Journal Gastroenterology, Selasa (22/12/2025).

Para peneliti menyebutkan bahwa hubungan tersebut tetap kuat meski telah memperhitungkan berbagai faktor lain yang berpotensi memengaruhi hasil penelitian. Kajian ini merupakan tinjauan terhadap sembilan studi yang melibatkan lebih dari 79.700 responden.

Salah satu penjelasan yang diajukan berkaitan dengan kondisi mikrobiota usus. Peneliti menemukan bahwa komposisi bakteri usus pada individu yang mengalami depresi berbeda secara signifikan dibandingkan mereka yang sehat. Dari temuan tersebut, disimpulkan bahwa bakteri usus dapat berinteraksi dengan sistem saraf dan memengaruhi kondisi mental.

Bakteri usus diketahui memproduksi zat kimia yang berperan dalam pengaturan suasana hati, seperti serotonin, dopamin, dan Gamma-Aminobutyric Acid (GABA), yang dapat memengaruhi keseimbangan neurotransmiter dalam tubuh.

Menurut penjelasan dari Cleveland Clinic, neurotransmiter berfungsi sebagai pembawa pesan antar sel saraf, termasuk ke otot dan kelenjar. Zat ini berperan penting dalam berbagai fungsi tubuh, mulai dari pergerakan, persepsi rasa, hingga respons terhadap rangsangan dari lingkungan sekitar.

Dari berbagai temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji dan ultra-olahan secara berlebihan berpotensi meningkatkan risiko depresi. Pola makan ini cenderung rendah nutrisi penting yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan fisik sekaligus mental. Semoga informasi ini dapat menjadi pengingat untuk lebih bijak dalam memilih asupan harian. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN