Orang Tua Perlu Kenali Gejala 3P Agar Anak Terhindari dari Diabetes Tipe 2

Ilustrasi pemeriksaan diabetes pada anak. (Foto: Universitas Airlangga)
Jakarta, MISTAR.ID – Diabetes tipe 2 yang selama ini identik dengan penyakit orang dewasa kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda, termasuk remaja dan anak usia sekolah menengah pertama (SMP).
Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan, perubahan tren tersebut menjadi perhatian karena diabetes tipe 2 tidak lagi hanya berkaitan dengan faktor genetik, tetapi juga dipengaruhi kebiasaan hidup sehari-hari.
“Dulu diabetes tipe 2 identik dengan usia 40 atau 50 tahun ke atas. Tetapi hari ini dan ini yang membuat saya tidak bisa tenang sebagai seorang dokter kita mulai melihatnya muncul pada remaja, bahkan beberapa kasus pada anak usia SMP,” ucap Dante saat memberikan sambutan dalam Canisius Health Expo pada Mei 2026, dilansir dari Kompas.com, Rabu (14/10/2026).
Konsumsi minuman manis, kebiasaan menyantap makanan cepat saji, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi sejumlah faktor yang perlu diwaspadai.
Dokter Spesialis Gizi Klinik, Igus Ulfa Yaze, mengatakan pola makan tidak sehat dan gaya hidup kurang aktif memiliki peran besar terhadap risiko diabetes tipe 2 pada usia muda.
"Pola makan dan kebiasaan mager atau sedentary lifestyle sangat dominan, bisa lebih dari 70 sampai 80 persen sebagai pemicu diabetes melitus tipe 2 pada usia muda," ujar Igus.
Menurut Igus, kebiasaan tersebut dapat menyebabkan kelebihan asupan kalori dalam jangka panjang, penumpukan lemak tubuh, hingga resistensi insulin. Akibatnya, tubuh semakin kesulitan mengendalikan kadar gula darah.
Salah satu kebiasaan yang perlu mendapat perhatian adalah konsumsi minuman berpemanis atau sugar-sweetened beverages, seperti minuman kemasan, boba, dan soda.
"Minuman ini tidak memberikan rasa kenyang, tapi memicu lonjakan gula darah dan insulin secara mendadak serta membebani organ hati," tuturnya.
Konsumsi minuman manis secara berlebihan dan terus-menerus dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan serta penumpukan lemak visceral, yakni lemak yang berada di sekitar organ dalam. Kondisi tersebut berkaitan dengan resistensi insulin.
Selain itu, makanan cepat saji yang tinggi kalori, gula, garam, atau lemak tertentu juga dapat memperburuk pola makan jika tidak diimbangi asupan bergizi seimbang dan aktivitas fisik yang cukup.
Orang Tua Perlu Mengenali Gejala 3P
Diabetes tipe 2 pada anak dan remaja tidak selalu mudah dikenali karena gejalanya bisa muncul secara bertahap. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi tubuh anak.
Igus mengingatkan tiga gejala klasik diabetes yang dikenal dengan istilah 3P, yaitu:
- Poliuria, sering buang air kecil, termasuk pada malam hari.
- Polidipsia, merasa haus berlebihan atau terus-menerus ingin minum.
- Polifagia, mudah merasa lapar meskipun sudah makan.
Selain gejala tersebut, orang tua juga perlu memperhatikan perubahan pada kulit anak. Salah satu tanda yang dapat muncul adalah acanthosis nigricans, yaitu kondisi ketika kulit di area lipatan, seperti leher dan ketiak, tampak lebih gelap serta menebal.
"Munculnya acanthosis nigricans atau lipatan kulit di leher atau ketiak yang tampak menghitam dan menebal seperti daki yang susah hilang," kata Igus.
Tanda lainnya meliputi tubuh mudah lelah, sering mengantuk, hingga mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Meski demikian, gejala-gejala tersebut tidak serta-merta memastikan anak mengalami diabetes. Jika menemukan tanda yang mencurigakan, orang tua disarankan berkonsultasi dengan tenaga medis agar anak dapat menjalani pemeriksaan yang sesuai. (Kompas)


























































