Makan Seorang Diri Berdampak Pada Kesehatan Mental

Ilustrasi Makan seorang diri. (Foto: Klik Dokter/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID
Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa kebiasaan makan seorang diri dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental, terutama bagi para lansia. Rutinitas makan sendiri, khususnya saat makan malam dikaitkan dengan pola makan yang kurang sehat, risiko kekurangan gizi, serta penurunan berat badan yang berpotensi memicu kerapuhan mental.
Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Appetite tersebut menunjukkan bahwa orang yang makan sendirian cenderung mengalami penurunan kekuatan fisik beberapa tahun lebih cepat dibanding mereka yang biasanya makan bersama.
Para ilmuwan dari Flinders University, Australia, menelaah 24 penelitian dalam 20 tahun terakhir yang fokus pada lansia dengan kebiasaan makan seorang diri. Hasilnya, semakin sering seseorang makan tanpa ditemani, semakin turun pula asupan proteinnya atau dari rata-rata 58 gram menjadi 51 gram per hari.
Menurut laporan Daily Mail, Rabu (3/12/2025), peneliti menjelaskan bahwa makan bersama dapat mempererat hubungan sosial, meningkatkan kesejahteraan mental, dan memberikan pengalaman makan yang lebih positif.
Khusus untuk lansia berusia 65 tahun ke atas yang jarang makan bersama teman sebaya diketahui memiliki pola makan yang lebih buruk dan asupan makanan bergizi lebih sedikit. Pada wanita, hal ini dapat memicu osteoporosis karena minimnya konsumsi protein, kalium, serta nutrisi penting lainnya.
Sementara itu, pria yang makan sendiri hanya mengonsumsi sayur sekitar dua porsi per hari. Jika makan bersama, konsumsi buah dan sayur mereka meningkat menjadi hampir dua setengah porsi.
“Perbedaannya sangat terlihat pada konsumsi buah dan sayur. Di Taiwan, orang yang makan sendirian rata-rata makan sayur dua kali sehari, sedangkan mereka yang makan bersama mencapai hampir dua setengah kali,” kata peneliti.
Selain baik untuk tubuh, pola makan sehat seperti konsumsi buah dan sayur juga bermanfaat bagi kesehatan mental. Penelitian itu juga menemukan bahwa lansia di Swedia yang makan sendiri empat kali lebih berisiko mengonsumsi makanan cepat saji dibanding mereka yang makan bersama.
Untuk mencegah dampak negatif ini, para ahli menyarankan agar tenaga kesehatan secara rutin menanyakan kebiasaan makan pasien lansia dalam pemeriksaan.
“Bagi keluarga yang memiliki orang tua atau kerabat lanjut usia yang tinggal sendiri, pesannya sederhana: makan malam bersama secara rutin atau membuat janji makan siang dapat menjadi sama pentingnya dengan menu yang tersaji,” ujarnya. (hm20)
BERITA TERPOPULER
BERITA TERPOPULER
























