Friday, June 5, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Kasus Pendaki Meninggal Kembali Soroti Bahaya Hipotermia, Ini Penjelasan Medisnya

Mistar.idSelasa, 20 Januari 2026 05.00
AN
kasus_pendaki_meninggal_kembali_soroti_bahaya_hipotermia_ini_penjelasan_medisnya

Ilustrasi. (Foto: Freepik.com)

news_banner

Medan, MISTAR.ID

Kasus pendaki gunung yang ditemukan meninggal dunia setelah hampir dua pekan pencarian kembali menyoroti bahaya hipotermia, kondisi medis darurat yang kerap disalahartikan sebagai sekadar kedinginan biasa.

Mengutip Mayo Clinic, hipotermia terjadi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius. Dalam kondisi ini, tubuh kehilangan panas lebih cepat dibandingkan kemampuannya menghasilkan panas, sehingga fungsi organ vital seperti jantung, otak, dan sistem saraf terganggu. Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat berujung pada gangguan irama jantung, kehilangan kesadaran, hingga kematian.

Hipotermia umumnya disebabkan oleh paparan cuaca dingin atau terendam air dingin. Namun, kondisi ini juga bisa terjadi pada suhu yang tidak terlalu rendah, terutama jika tubuh dalam keadaan basah, kelelahan, atau kekurangan asupan energi.

Menurut Cleveland Clinic, hipotermia berkembang secara bertahap. Pada tahap hipotermia ringan, suhu tubuh berada di kisaran 35 hingga 32 derajat Celsius dengan gejala menggigil hebat, gigi gemeretak, kelelahan, mengantuk, detak jantung dan pernapasan meningkat, kesulitan berbicara, serta kebingungan ringan.

Hipotermia sedang terjadi saat suhu tubuh turun ke kisaran 32 hingga 28 derajat Celsius. Pada fase ini, menggigil mulai berkurang, bicara menjadi cadel, kesadaran menurun, kulit membiru, dan dapat muncul halusinasi.

Sementara itu, hipotermia berat terjadi ketika suhu tubuh berada di bawah 28 derajat Celsius. Pada kondisi ini, tubuh berhenti menggigil, otot menjadi kaku, tekanan darah menurun, kesadaran menghilang, dan jantung berisiko berhenti berdetak.

Salah satu fenomena yang sering membingungkan adalah kondisi ketika penderita hipotermia justru merasa kepanasan hingga melepas pakaian. Perilaku ini dikenal sebagai paradoxical undressing atau pelepasan pakaian paradoks. Melansir Biology Insights, fenomena tersebut biasanya terjadi pada tahap hipotermia sedang hingga berat.

Pada awalnya, tubuh mempertahankan panas dengan vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh darah di permukaan kulit. Namun, ketika kondisi berlanjut, otot-otot pembuluh darah mengalami kelelahan dan gagal berfungsi, sehingga terjadi vasodilasi pasif secara tiba-tiba.

Akibatnya, darah hangat dari inti tubuh mengalir ke permukaan kulit dan menimbulkan sensasi panas palsu, yang mendorong korban melepas pakaian dan justru mempercepat kehilangan panas tubuh.

Pendaki gunung termasuk kelompok berisiko tinggi mengalami hipotermia. Faktor pemicunya antara lain perubahan cuaca ekstrem, angin kencang, hujan, kelelahan fisik, kurangnya asupan makanan, serta perlengkapan dan pakaian yang tidak memadai. Risiko semakin meningkat jika pendaki tersesat atau terjebak kondisi alam tanpa perlindungan, terutama pada malam hari.

Hipotermia membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Korban harus segera dipindahkan ke tempat yang kering dan terlindung, pakaian basah diganti, serta tubuh dihangatkan secara bertahap untuk mencegah kondisi semakin fatal. (hm25)


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN