Thursday, October 22, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Destanul Apresiasi Pembenahan 31 FKTP di Medan, Dorong Pelayanan Lebih Optimal

Mistar.idKamis, 22 Oktober 2026 pukul 16.38 WIB
destanul_apresiasi_pembenahan_31_fktp_di_medan_dorong_pelayanan_lebih_optimal

Pengamat Kesehatan Sumut, Destanul Aulia SKM. (foto: berry/mistar)

Medan, MISTAR.ID - Pengamat Kesehatan Sumatera Utara (Sumut), Destanul Aulia SKM, mengapresiasi kebijakan Wali Kota Medan Rico Waas yang telah memulai pembangunan maupun renovasi 31 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dalam peningkatan layanan kesehatan masyarakat.

Destanul mengatakan, yang dilakukan Pemko Medan merupakan langkah penting untuk hadirkan fasilitas kesehatan yang lebih representatif, modern, dan nyaman bagi masyarakat.

"Kita tidak ingin Puskesmas memiliki gedung yang megah, tetapi masyarakat tetap memilih berobat langsung ke rumah sakit karena pelayanan Puskesmas belum mampu memenuhi kebutuhan mereka," ujarnya, Kamis (22/10/2026).

Dirinya menyarankan tujuh langkah yang perlu diperhatikan Pemko Medan dalam pembenahan fasilitas kesehatan. Pertama, evaluasi menyeluruh terhadap kemampuan pelayanan seluruh Puskesmas.

Evaluasi harus melihat kemampuan nyata Puskesmas dalam menangani penyakit, kompetensi tenaga kesehatan, kelengkapan alat kesehatan, ketersediaan obat, kualitas pelayanan, dan ketepatan sistem rujukan.

"Kita perlu mengetahui mengapa masih ada kasus yang semestinya dapat ditangani di pelayanan primer seperti puskesmas, tetapi akhirnya pasien harus dirujuk ke rumah sakit," ucapnya.

Langkah kedua, dikatakan Destanul, Pemko Medan harus memastikan Puskesmas punya tenaga kesehatan sesuai standar dan kebutuhan masyarakat seperti, dokter, perawat, bidan, apoteker, dan tenaga laboratorium.

Selain kemampuan sumber daya manusia, ia mengatakan pentingnya keterampilan klinis, kemampuan komunikasi, edukasi kesehatan, dan pelayanan yang ramah harus menjadi perhatian utama.

Destanul mengingatkan renovasi dan pembangunan FKTP harus diikuti kesiapan operasional pelayanan kesehatan seperti kelengkapan alat-alat kesehatan, kebutuhan obat, maupun fasilitas laboratorium dasar.

"Kita tidak ingin setelah direnovasi, pasien tetap harus cari pelayanan ke fasilitas lain karena alat medis puskesmas tidak tersedia, tidak berfungsi, atau obat yang dibutuhkan tidak cukup," tuturnya.

Akademisi Universitas Sumatera Utara itu berharap setiap puskesmas punya program unggulan seperti pengendalian hipertensi, diabetes, tuberkulosis, kesehatan ibu, anak, remaja, serta lingkungan.

Petugas kesehatan di Puskesmas juga harus lebih aktif mendatangi masyarakat, melakukan skrining kesehatan, memberikan edukasi yang tepat, dan mendampingi kelompok berisiko agar tidak jatuh sakit.

"Langkah kelima setiap puskesmas harus punya peta masalah kesehatan, data kelompok berisiko, target pengendalian penyakit, serta program intervensi terukur yang didukung sumber daya dan kolaborasi semua pihak," katanya.

Dalam pembangunan dan renovasi tersebut, Destanul mengatakan masyarakat di Kota Medan butuh pelayanan, mudah, cepat, nyaman, dan memiliki kepastian waktu.

Keenam, membangun sistem pelayanan Puskesmas yang sesuai dengan karakteristik masyarakat perkotaan. Maka, puskesmas harus bisa bangun komunikasi yang baik agar masyarakat merasa dilayani, bukan sekadar diperiksa.

Disebutkannya jika digitalisasi pendaftaran, pengurangan waktu tunggu, penataan alur pelayanan dan penyesuaian jam operasional sesuai kebutuhan masyarakat perlu dipertimbangkan ke depannya.

Langkah terakhir mengenai keberhasilan puskesmas jangan hanya dinilai dari jumlah kunjungan, kegiatan penyuluhan dan predikat akreditasi, maka perlu indikator kinerja puskesmas berbasis hasil.

"Kita harus ukur kepuasan masyarakat, penyakit bisa dikendalikan lebih dini, pasien penyakit kronis diberikan pelayanan lanjutan dan rujukan yang sebenarnya tidak diperlukan dapat dikurangi," ucapnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN