Sunday, June 14, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Benarkah Keju Selalu Menaikkan Kolesterol?

Mistar.idMinggu, 14 Juni 2026 06.00
EH
benarkah_keju_selalu_menaikkan_kolesterol

Keju. (Foto: Kompas)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID

Bagi orang dengan riwayat kolesterol tinggi, keju kerap menjadi salah satu makanan yang langsung dihindari. Hal ini karena keju dikenal mengandung lemak jenuh yang dapat meningkatkan kadar LDL (Low Density Lipoprotein) atau kolesterol “jahat”.

Namun, sejumlah penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pengaruh keju terhadap kesehatan jantung tidak sesederhana itu.

Para ilmuwan menilai dampaknya tidak bisa hanya dilihat dari kandungan lemak jenuh, tetapi juga dari berbagai faktor lain seperti struktur makanan secara keseluruhan hingga pola makan seseorang.

Secara umum, berbagai organisasi kesehatan seperti World Health Organization dan American Heart Association tetap menyarankan pembatasan konsumsi lemak jenuh karena berkaitan dengan peningkatan risiko kolesterol LDL. Akan tetapi, pandangan ini mulai diperkaya oleh temuan baru yang menunjukkan bahwa efek suatu makanan tidak selalu bisa disimpulkan hanya dari satu komponen gizi.

Sejumlah kajian ilmiah, termasuk tinjauan yang dipimpin Thorning dkk. dan diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition (2021), menyebutkan dampak produk susu terhadap kesehatan jantung tidak dapat diprediksi hanya berdasarkan kandungan lemak jenuhnya. Peneliti menekankan pentingnya melihat food matrix atau struktur makanan secara keseluruhan.

Pandangan serupa juga muncul dalam tinjauan di jurnal Advances in Nutrition (2023), yang menyimpulkan hubungan antara produk susu dan kesehatan kardiovaskular jauh lebih kompleks dibandingkan pemahaman sebelumnya.

"Keju memang mengandung lemak jenuh dan tetap bisa meningkatkan LDL jika dikonsumsi berlebihan. Namun, efeknya tidak selalu sama dengan makanan lain yang juga tinggi lemak jenuh," tertulis di dalam jurnal milik Thorning dkk, Minggu (14/6/2026).

Untuk memperjelas hal ini, berbagai penelitian membandingkan keju dengan sumber lemak susu lain seperti mentega guna melihat perbedaan dampaknya terhadap kolesterol.

Penelitian Terbaru: Efek Keju Tidak Sesederhana Dugaan Awal

Salah satu studi yang banyak dirujuk dimuat dalam American Journal of Clinical Nutrition (2011) oleh Janne Hjerpsted dkk. Penelitian ini membandingkan efek konsumsi keju dan mentega dengan kandungan lemak yang sama.

Hasilnya, setelah enam minggu, kelompok yang mengonsumsi keju justru memiliki kadar LDL lebih rendah dibandingkan kelompok yang mengonsumsi mentega. Selain itu, konsumsi keju tidak menunjukkan peningkatan LDL dibandingkan pola makan awal peserta.

Temuan serupa juga sudah muncul sebelumnya. Studi Tholstrup dkk. yang terbit pada 2005 di jurnal yang sama menunjukkan bahwa lemak susu dalam bentuk mentega lebih besar meningkatkan kolesterol total dan LDL dibandingkan jumlah lemak yang sama dalam bentuk keju.

Perbedaan ini kemudian dijelaskan melalui konsep food matrix. Dalam tinjauan Thorning dkk. (2021), disebutkan tubuh tidak memproses nutrisi secara terpisah. Kandungan protein, kalsium, proses fermentasi, serta struktur fisik keju diduga memengaruhi cara tubuh menyerap dan mengolah lemak.

Akibatnya, dampak keju terhadap kolesterol bisa berbeda dibandingkan makanan lain dengan kandungan lemak jenuh yang serupa.

Temuan tersebut juga diperkuat oleh meta-analisis Alexander dkk. yang dipublikasikan di European Journal of Nutrition (2016). Studi ini menunjukkan bahwa konsumsi keju tidak berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner maupun penyakit kardiovaskular secara umum.

Meski demikian, para peneliti menyebutkan keju tetap harus dikonsumsi secara bijak. Kandungan kalori, lemak jenuh, dan natrium di dalamnya tetap perlu diperhatikan, terutama bagi individu dengan kolesterol tinggi atau faktor risiko penyakit jantung. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN