PBB Kecam Serangan AS-Israel ke Iran, Harga Minyak Terancam Tembus 100 Dolar

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
Teheran, MISTAR.ID
Serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran menuai kecaman dari berbagai pihak serta memicu kekhawatiran akan lonjakan harga minyak dunia hingga potensi konflik yang lebih luas.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, secara tegas mengecam serangan tersebut, termasuk serangan balasan Iran ke sejumlah negara di kawasan.
Dalam pidatonya di Dewan Keamanan PBB pada 28 Februari 2026, Guterres menegaskan bahwa seluruh negara wajib mematuhi Piagam PBB yang melarang penggunaan kekuatan terhadap integritas wilayah negara lain.
“Itulah sebabnya sejak pagi ini saya mengecam serangan militer besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran,” kata Guterres dalam pernyataan resmi yang diterima media pada Minggu (1/3/2026).
Ia memperingatkan bahwa eskalasi militer yang terus meluas berisiko memicu konflik yang lebih besar dan tidak terkendali. “Saya menyerukan de-eskalasi dan penghentian permusuhan segera,” ujarnya.
Di sisi lain, langkah Iran menutup Selat Hormuz turut menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Penutupan jalur vital distribusi minyak tersebut diprediksi dapat memicu lonjakan harga minyak dunia.
Saat ini harga minyak berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Namun apabila konflik berlanjut, harga diperkirakan dapat naik ke level 80 dolar AS per barel. Bahkan, jika distribusi minyak melalui Selat Hormuz terganggu signifikan, harga minyak berpotensi menembus 100 dolar AS per barel.
Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal.
“Kalau sudah sampai 100 dolar per barel, itu masuk zona tinggi, rekor. Beberapa tahun terakhir kita tidak mengalami kenaikan setinggi itu, terakhir ketika awal perang Rusia-Ukraina,” ujarnya.
Faisal menambahkan, lonjakan harga minyak dunia akan berdampak langsung terhadap penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. BBM nonsubsidi dipastikan akan mengalami kenaikan mengikuti harga pasar internasional.
Menurutnya, yang lebih mengkhawatirkan adalah potensi penyesuaian harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar yang banyak digunakan masyarakat kelas menengah ke bawah.
“Peningkatan harga ini tentu saja berpotensi mempengaruhi inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat pada umumnya,” kata Faisal. (hm25)























