Mengenal Sosok Zohran Mamdani, Wali Kota Muslim Pertama Terpilih di New York

Pidato pertama Zohran Mamdani setelah mengalahkan pesaingnya Andrew Cuomo dan Curtis Sliwa dan menjadi calon Wali Kota New York.(foto: tangkapan layar via The Guardian/mistar)
New York, MISTAR.ID
Kandidat Partai Demokrat, Zohran Mamdani berhasil memenangkan Pemilihan Wali Kota ke-111 New York usai meraup lebih dari 50 persen suara. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun Associated Press, Rabu (5/11/2025) pukul 12.30 WIB, Zohran mendapatkan 1.036.051 suara atau 50,4 persen, dengan jumlah suara masuk mencapai 91 persen.
Angka itu unggul jauh dari kandidat independen, Andrew M Cuoma yang meraih 854.995 suara atau 41,6 persen. Sedangkan kandidat Partai Republik, Curtis Sliwa hanya berhasil memperoleh 146.137 suara atau 7,1 persen.
Kemenangan ini menempatkan Zohran Mamdani sebagai wali kota Muslim pertama yang memimpin New York, rumah bagi 8,5 juta orang. Lantas, siapa sebenarnya Zohran Mamdani?
Zohran Mamdani merupakan anggota dewan negara bagian selama yang menjabat selama tiga periode seperti dikutip dari CNN, Rabu. Lahir di Uganda dan besar di Cape Town, Afrika Selatan, ia pindah ke New York City saat berusia 7 tahun.
Ayahnya, Mahmood Mamdani, seorang profesor di Columbia University, sedangkan ibunya, Mira Nair, seorang sineas India. Ia meraih gelar sarjana dalam bidang kajian Afrika dari Bowdoin College pada 2014, tempat ia mendirikan cabang Students for Justice in Palestine yang pertama.
Sebelum terjun ke dunia politik, Mamdani adalah seorang konselor perumahan dan rapper kelas C yang dikenal dengan julukan "Mr Cardamom".
Karier musiknya yang singkat terkadang menjadi sorotan utama dalam iklan-iklan serangan lawannya. Pada November 2020, ia terpilih menjadi anggota majelis negara bagian yang mewakili distrik ke-36 New York.
Kesuksesan ini mengantarkannya menjadi pria Asia Selatan pertama, orang Uganda pertama, dan satu dari hanya tiga Muslim yang pernah bertugas di badan tersebut.
Strategi kampanye
Nama Mamdani terus menanjak dalam pemilihan wali kota dengan memproduksi serangkaian video media sosial yang konstan, termasuk wawancara dengan para pemilih yang mendukung Trump pada tahun 2024 karena tingginya biaya hidup seperti dikutip dari The Guardian, Rabu.
Ia menjalankan kampanye digital yang inovatif di mana ia berbicara dalam berbagai bahasa dan terhubung bersama para pendukungnya dengan pesan yang berpusat pada keterjangkauan. Selama kampanye, Mamdani, yang fasih berbahasa Urdu, merilis video kampanye dalam bahasa Bangla, Spanyol, dan Arab.
Salah satu video viralnya yang paling berkesan membahas apa yang disebutnya sebagai "flasi halal". Ia mewawancarai para pedagang daging jalanan tentang tingginya biaya menjalankan bisnis makanan kaki lima di New York City.
Dengan sesuap nasi dan daging halal, Mamdani merinci bagaimana sistem perizinan yang rumit di kota tersebut, turut menjadi penyebab harga makanan kaki lima yang seharusnya murah. Ia berhasil menarik ribuan pemilih muda dan pemilih pemula serta relawan yang antusias ke Partai Demokrat dan menjalankan kampanye yang inspiratif.
Mamdani tetap berfokus pada harga sewa dan kualitas hidup masyarakat, perawatan anak dan kebutuhan pokok, serta mendukung kebijakan-kebijakan, seperti menaikkan pajak bagi orang-orang terkaya di New York City, menaikkan pajak perusahaan, dan membekukan tarif sewa apartemen yang telah distabilkan. Ia juga mengusulkan pengasuhan anak universal, bus tanpa tarif, toko kelontong milik kota, dan upah minimum 30 dollar AS.






















