Wednesday, October 14, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Laba Anjlok 17% dan Kena Denda Rp20 T, Saham Bank of America Terjun 4%

Mistar.idRabu, 14 Oktober 2026 pukul 19.30 WIB
laba_anjlok_17_dan_kena_denda_rp20_t_saham_bank_of_america_terjun_4_

Saham Bank of America terjun 4%. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)

Jakarta, MISTAR.ID (14/10/2026) — Bank of America mencatat penurunan laba tajam setelah dikenai denda sebesar 1,2 miliar dolar Amerika Serikat (AS) oleh regulator AS. Pendapatan bank tersebut juga mengecewakan karena hasil perdagangan (trading) sekitar 750 juta dolar AS lebih rendah dari perkiraan.

Saham bank tersebut turun lebih dari 4 persen dalam perdagangan pra-pasar (pre-market).

Laba kuartal III-2026 turun 17 persen menjadi 6,93 miliar dolar AS atau 91 sen per saham. Jika denda tersebut tidak diperhitungkan, yang mengurangi laba sebesar 17 sen, laba per saham (EPS) seharusnya mencapai 1,08 dolar AS per saham.

Pendapatan perusahaan secara keseluruhan naik 3,2 persen menjadi 30,12 miliar dolar AS pada kuartal tersebut. Namun, angka ini berada sekitar 570 juta dolar AS di bawah perkiraan, terutama akibat hasil yang tidak mencapai target pada operasi perdagangan Wall Street.

Pendapatan perdagangan pendapatan tetap (fixed income) turun 17 persen menjadi 2,55 miliar dolar AS akibat lemahnya aktivitas di sektor hipotek, obligasi pemerintah daerah (municipal bonds), dan kredit. Angka ini sekitar 450 juta dolar AS di bawah estimasi StreetAccount.

Pendapatan perdagangan ekuitas naik 10 persen menjadi 2,51 miliar dolar AS, tetapi juga berada di bawah perkiraan analis dengan selisih hampir 300 juta dolar AS.

Sementara pendapatan perbankan investasi turun 11 persen menjadi 1,8 miliar dolar AS, angka yang kurang lebih sesuai perkiraan.

Insiden terkait Departemen Keuangan (Treasury), di mana regulator AS menyatakan perusahaan gagal melaporkan transaksi mencurigakan bernilai miliaran dolar, mau tidak mau memicu pertanyaan apakah CEO Brian Moynihan benar-benar menguasai sistem pengendalian di bank terbesar kedua di AS berdasarkan aset tersebut.

Moynihan mulai memimpin pada 2010 dan menghabiskan tahun-tahun awal masa jabatannya untuk memperbaiki dampak pelanggaran terkait hipotek pasca-krisis keuangan 2008. Kini, muncul pertanyaan apakah masih ada masalah manajemen risiko lain yang belum terungkap.(cnbc/hm02)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN