Friday, June 19, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Khamenei Angkat Bicara Soal Kesepakatan Iran-AS

Mistar.idJumat, 19 Juni 2026 10.22
EH
khamenei_angkat_bicara_soal_kesepakatan_iranas

Mojtaba Khamenei. (Foto: Islam Times)

news_banner

Teheran, MISTAR.ID

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, akhirnya memberikan persetujuan terhadap nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya ditandatangani Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai langkah menuju berakhirnya konflik antara kedua negara.

Persetujuan tersebut disampaikan Khamenei dalam pernyataan resmi pada Kamis (18/6/2026), bertepatan dengan keputusan Washington untuk mulai mencabut blokade terhadap kapal-kapal dan pelabuhan Iran.

Meski mendukung kesepakatan tersebut, Khamenei mengakui masih memiliki sejumlah catatan dan keberatan terhadap isi perjanjian.

"Namun saya memberikan persetujuan karena adanya komitmen dari para pejabat, termasuk Presiden Pezeshkian, untuk melindungi hak-hak bangsa Iran," kata Khamenei, sebagaimana dikutip AFP.

Ia juga menegaskan komunikasi langsung antara Teheran dan Washington kemungkinan akan berlanjut dalam bentuk perundingan tatap muka. Namun, menurutnya, langkah itu tidak berarti Iran menerima seluruh pandangan yang disampaikan pihak Amerika Serikat.

"Negosiasi tatap muka" dengan Amerika Serikat akan dilakukan pada masa mendatang, tetapi hal itu tidak berarti "menerima sudut pandang musuh".

Kesepakatan yang dicapai kedua negara memuat sejumlah poin penting, termasuk komitmen Amerika Serikat untuk mencabut sanksi terhadap sektor minyak Iran yang selama bertahun-tahun membebani perekonomian negara tersebut.

Selain itu, Washington juga berjanji mendukung pencairan dana rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS yang akan digunakan setelah tercapainya kesepakatan final terkait program nuklir Iran. Dana tersebut disebut mendapat dukungan dari sejumlah negara di kawasan.

Perjanjian tersebut diharapkan menjadi jalan keluar dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran selama lima pekan, sebelum akhirnya gencatan senjata diberlakukan pada awal April lalu.

Meski demikian, optimisme terhadap perdamaian jangka panjang belum sepenuhnya dirasakan seluruh warga Iran. Sebagian masyarakat masih meragukan apakah kesepakatan itu mampu bertahan dalam waktu lama.

"Saya tidak yakin ini akan menjadi kesepakatan yang bertahan lama. Bisa saja setelah 60 hari mereka kembali berperang," ujar Mina, seorang psikolog berusia 54 tahun yang tinggal di Teheran.

Keraguan serupa juga disampaikan Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Macron, yang turut memfasilitasi proses penandatanganan kesepakatan di Istana Versailles, menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa konflik telah benar-benar berakhir.

Menurut Macron, inisiatif yang menghasilkan penandatanganan MoU tersebut merupakan langkah yang dilakukan secara spontan oleh Trump. Ia mengaku belum sepenuhnya yakin bahwa perang yang sempat memanas dalam beberapa bulan terakhir benar-benar telah usai.

Sementara itu, Mojtaba Khamenei masih menjadi sorotan publik sejak menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada hari pertama perang, 28 Februari lalu.

Berbeda dengan ayahnya yang beberapa kali memberikan ruang bagi pejabat Iran untuk berdialog dengan negara-negara Barat, Mojtaba hingga kini belum banyak tampil di hadapan publik sejak menduduki jabatan tertinggi tersebut.

Upacara pemakaman Ali Khamenei yang dijadwalkan berlangsung pada awal Juli mendatang diperkirakan akan menjadi momen penting karena dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan dan kepemimpinan baru Iran di bawah Mojtaba Khamenei. (hm20)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN