Friday, June 5, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Iran Ungkap 3.117 Orang Tewas dalam Demonstrasi Sejak Desember 2025

Mistar.idKamis, 22 Januari 2026 13.52
AN
iran_ungkap_3117_orang_tewas_dalam_demonstrasi_sejak_desember_2025

Iran menjadi sorotan usai gelombang demonstrasi menjalar di negara tersebut sejak beberapa pekan lalu. (Foto: Reuters/Isabel Infantes)

news_banner

Teheran, MISTAR.ID

Pemerintah Iran akhirnya merilis data resmi jumlah korban tewas selama rangkaian demonstrasi yang berlangsung sejak 28 Desember 2025 hingga Rabu (21/1/2026). Dalam laporan resmi pertamanya, Yayasan Veteran dan Martir Iran menyebutkan sebanyak 3.117 orang meninggal dunia akibat kerusuhan tersebut.

Sebagaimana dikutip televisi pemerintah Iran, dari total korban tewas tersebut, sebanyak 2.427 orang merupakan anggota pasukan keamanan yang oleh pemerintah Iran disebut sebagai “martir” dan diklaim sebagai korban tidak bersalah.

Sementara itu, 690 orang lainnya dikategorikan pemerintah sebagai “teroris, perusuh, dan pihak yang menyerang fasilitas militer.” Hal tersebut disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Akbar Pourjamshidian, seperti dikutip kantor berita AFP.

Pourjamshidian menilai tingginya jumlah korban dari kalangan aparat mencerminkan sikap “pengendalian diri dan toleransi” aparat keamanan dalam menghadapi aksi protes.

Yayasan Veteran dan Martir Iran juga menuding adanya campur tangan pihak asing dalam demonstrasi tersebut. Mereka menuduh Amerika Serikat mendukung dan mempersenjatai pelaku kekerasan dalam unjuk rasa.

Di sisi lain, organisasi hak asasi manusia menilai angka korban tewas jauh lebih tinggi dari klaim resmi pemerintah. Direktur LSM Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia, Mahmood Amiry-Moghaddam, menyatakan bukti-bukti yang ada menunjukkan jumlah korban melampaui laporan pemerintah.

“Republik Islam memiliki pola yang terdokumentasi dengan baik dalam meremehkan secara sistematis kekerasan mematikan oleh negara,” ujar Moghaddam kepada AFP.

Ia memperingatkan, apabila pola pelaporan eksekusi diterapkan pada kasus ini, jumlah korban tewas bisa mencapai sekitar 25.000 orang. Menurutnya, berbagai bukti menunjukkan aparat negara bertanggung jawab atas penembakan demonstran dengan peluru tajam.

Sejumlah kelompok hak asasi manusia, termasuk Amnesty International, juga menuduh aparat keamanan secara sengaja membidik demonstran dari atap gedung dan mengarahkan tembakan ke bagian mata para pengunjuk rasa.

Hingga kini, CNN Indonesia belum memperoleh data pembanding dari media resmi Iran terkait jumlah korban tewas. Akses informasi masih terhambat akibat pemadaman internet yang diberlakukan pemerintah. Lembaga pemantau jaringan Netblocks mencatat pemadaman telah berlangsung lebih dari 300 jam.

Aksi protes di Iran awalnya dipicu oleh memburuknya krisis ekonomi, namun kemudian berkembang menjadi gerakan penentangan terhadap kepemimpinan rezim ulama yang berkuasa sejak Revolusi Islam 1979, yang saat ini dipimpin Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Demonstrasi tersebut turut mendapat dukungan dari Putra Mahkota terakhir Iran, Reza Pahlavi, putra Mohammad Reza Pahlavi, yang kini berada di pengasingan. Reza Pahlavi menyerukan demonstran untuk terus melakukan perlawanan dan menguasai kota-kota besar guna melengserkan pemerintahan.

Ia juga menyatakan siap kembali ke Iran untuk mendukung gerakan tersebut. Sementara itu, Khamenei dan jajaran pemerintah Iran menilai Amerika Serikat berada di balik rangkaian demonstrasi tersebut. (hm25)

BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN