Monday, July 20, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Iran Mendesak Ubah Lokasi dan Format Negosiasi Nuklir dengan AS: Fokus di Oman, Bukan Turki

Mistar.idRabu, 4 Februari 2026 pukul 20.16 WIB
iran_mendesak_ubah_lokasi_dan_format_negosiasi_nuklir_dengan_as_fokus_di_oman_bukan_turki

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berbicara selama pertemuan di Teheran, Iran, 1 Februari 2026. (foto:Kantor Pemimpin Tertinggi Iran/WANA (West Asia News Agency)/Handout via Reuters/Mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Dalam perkembangan mengejutkan di panggung diplomasi internasional, Iran kini menuntut perubahan lokasi dan format perundingan nuklir yang akan digelar dengan Amerika Serikat (AS). Alih-alih dilangsungkan di Istanbul, Turki, dan melibatkan negara-negara regional sebagai pihak pengamat atau mediator, Teheran ingin pertemuan tersebut dipindah ke Oman dan dilakukan secara bilateral langsung dengan AS saja.

Permintaan itu muncul hanya beberapa hari sebelum jadwal awal pertemuan yang diumumkan, menandai perubahan strategi diplomatik signifikan dari Republik Islam. Iran menilai format bilateral dapat lebih efektif untuk membahas isu yang dianggapnya paling sensitif: program nuklirnya.

Mengapa Iran Inginkan Oman?

Oman selama ini dikenal memiliki peran sebagai penengah netral dalam hubungan AS–Iran. Muscat tidak hanya menjadi tuan rumah putaran perundingan tidak langsung sebelumnya, tetapi juga menjadi jalur pengiriman proposal antara kedua pihak dalam beberapa fase dialog nuklir yang lalu.

Diplomat Iran berharap Oman bisa menyediakan suasana yang lebih kondusif dibandingkan forum multilateral yang ramai dengan banyak pihak. Mereka juga menekankan bahwa pembicaraan harus terfokus pada isu nuklir saja, bukan pada isu lain seperti program rudal atau dukungan kelompok ekstremis yang kerap diperdebatkan oleh AS dan sekutunya.

Dampak Perubahan Format

Keinginan untuk mengubah format dari multilateral menjadi negosiasi dua arah (bilateral) mencerminkan kekhawatiran Tehran terhadap keterlibatan pihak ketiga yang dapat memperluas agenda pembicaraan. Iran khawatir isu lain akan ditambahkan yang bukan menjadi prioritas utama mereka saat ini.

Permintaan ini juga terjadi ditengah ketegangan regional dan insiden militer, termasuk serangan drone yang ditembakkan AS serta konfrontasi di Selat Hormuz, yang semuanya turut mempengaruhi suasana diplomatik.

Respons Washington dan Dunia

Hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak AS terkait apakah permintaan Iran itu akan diterima atau diteruskan sesuai rencana. Sementara itu, isu ini turut menarik perhatian para diplomat dan pemimpin dunia yang berharap agar dialog tetap berjalan demi meredakan ketegangan di kawasan.

Pemerintah AS sebelumnya menyatakan niatnya untuk mengejar kesepakatan yang kuat, termasuk membahas batasan lebih luas pada program nuklir dan dukungan Teheran terhadap kelompok militan di kawasan. Namun, pergeseran format ini bisa berimplikasi pada ruang lingkup negosiasi yang lebih sempit dan terfokus.

Apa Arti Bagi Diplomasi Global?

Iran yang meminta negosiasi bilateral mencerminkan perubahan taktik diplomatik yang signifikan. Di satu sisi, langkah ini menunjukkan kesiapan Tehran untuk berbicara langsung dengan AS. Namun di sisi lain, pendekatan ini juga memperlihatkan ketidakpercayaan Iran terhadap mekanisme multilateral yang melibatkan kekuatan regional.

Para analis memandang permintaan ini sebagai manuver strategis Tehran dalam mengendalikan agenda pembicaraan, terutama dalam isu yang selama ini menjadi titik konflik utama antara Iran dan dunia Barat: kapasitas serta pengawasan program nuklirnya.

(berbagaisumber/ai/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN