Monday, October 12, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Gila! China Borong 1.000 Ton Emas Rp2.843 Triliun Diam-Diam, Mau Tinggalkan Dolar AS?

Mistar.idSenin, 12 Oktober 2026 pukul 18.11 WIB
gila_china_borong_1000_ton_emas_rp2843_triliun_diamdiam_mau_tinggalkan_dolar_as_

Ilustrasi emas batangan. (Foto: stabilitas.id)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID (12.10/2026) - China memborong lebih dari 1.000 ton emas batangan dari sejumlah negara. Berdasarkan laporan CNBC yang dilansir CNN Indonesia, Bank Rakyat China baru saja menambah cadangan emas sebesar 23 ton pada September lalu. Ini merupakan pembelian emas terbesar China dalam hampir tiga tahun.

Selama 23 bulan beruntun China memborong emas batangan hingga lebih dari 1.000 ton. Aksi borong beruntun ini memperpanjang rekor periode pembelian terlama sejak setidaknya 2015.

Aksi tersebut disebut sebagai upaya Beijing mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS serta minimnya alternatif investasi aman bagi ekonomi domestik China.

Kondisi ekonomi yang lesu juga mendorong China terus menumpuk cadangan emas. Rumah tangga dan perusahaan di China beralih ke emas sebagai aset pelindung nilai (safe haven), dikutip dari CNBC.

Data bea cukai menunjukkan negara itu mencatatkan rekor pengeluaran sebesar 158,8 miliar dolar AS atau setara Rp2.843 triliun untuk mengimpor lebih dari 1.000 ton emas selama delapan bulan pertama 2026. Angka ini melampaui nilai impor sebesar 96,5 miliar dolar AS atau Rp1.728 triliun dan volume 886 ton yang tercatat sepanjang 2025.

Menurut analisis kepala strategi emas di State Street Investment Management, Aakash Doshi, impor emas untuk kebutuhan konsumen di China mencapai rekor tertinggi dalam delapan bulan pertama tahun ini.

Lonjakan premi pada harga emas domestik Tiongkok mengindikasikan "permintaan musiman pada musim dingin yang lebih kuat," ujar Doshi.

Akumulasi logam mulia ini terjadi di tengah penurunan harga emas. Harga emas turun lebih dari 8 persen pada September menjadi sekitar 4.176 dolar AS per ons setelah sempat menyentuh rekor di atas 5.500 dolar AS pada Januari.(hm02)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN