16 C
New York
Wednesday, April 17, 2024

DK PBB Akan Sidang Bahas Gencatan Senjata Israel – Hamas, AS Diduga Bakal Veto Kembali

New York, MISTAR.ID

Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemungkinan akan melakukan pemungutan suara pada hari Selasa (20/2/24).  Aljazair mendesak agar badan beranggotakan 15 negara tersebut melakukan pemungutan suara terkait gencatan senjata kemanusiaan segera dalam perang Israel-Hamas, Sabtu (17/2/24).

Rancangan awal gencatan senjata telah diajukan Aljazair lebih dari dua pekan lalu. Namun, Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield dengan cepat mengatakan bahwa teks tersebut dapat membahayakan negosiasi sensitif yang bertujuan untuk menengahi jeda dalam perang.

Agar dapat diadopsi, resolusi Dewan Keamanan PBB membutuhkan setidaknya sembilan suara yang mendukung dan tidak ada veto dari Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Cina atau Rusia.

Baca juga: Dilanda Resesi, Jepang Pertimbangkan Perpanjangan Subsidi Minyak

“Amerika Serikat tidak mendukung tindakan atas rancangan resolusi ini. Jika rancangan resolusi ini diajukan untuk pemungutan suara, maka resolusi ini tidak akan diadopsi,” kata Thomas-Greenfield dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu kemarin, seperti dikutip Reuters.

Washington secara tradisional melindungi sekutunya, Israel, dari tindakan PBB dan telah dua kali memveto tindakan dewan sejak 7 Oktober. Namun, AS juga telah dua kali abstain, sehingga memungkinkan dewan untuk mengadopsi resolusi yang bertujuan untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan ke Gaza dan menyerukan jeda kemanusiaan yang mendesak dan diperpanjang dalam pertempuran.

Pembicaraan antara AS, Mesir, Israel dan Qatar sedang berlangsung untuk mengupayakan jeda dalam perang dan pembebasan sandera yang ditahan oleh Hamas.

“Sangat penting bagi pihak-pihak lain untuk memberikan proses ini peluang terbaik untuk berhasil, dan bukannya mendorong langkah-langkah yang menempatkannya – dan kesempatan untuk penyelesaian permusuhan yang abadi – dalam bahaya,” kata Thomas-Greenfield.

Perang Gaza dimulai ketika para pejuang dari kelompok militan Hamas yang menguasai Gaza menyerang Israel pada tanggal 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang dan menangkap 253 sandera, menurut perhitungan Israel.

Sebagai pembalasan, Israel melancarkan serangan militer ke Gaza yang menurut otoritas kesehatan telah menewaskan lebih dari 28.000 warga Palestina dan ribuan lainnya dikhawatirkan masih tertimbun reruntuhan.

Baca juga: Mantan PM Thailand Thaksin Shinawatra akan Dibebaskan Hari Ini

Pemungutan suara di DK PBB dilakukan ketika Israel juga berencana untuk menyerbu Rafah di Gaza selatan, di mana lebih dari satu juta warga Palestina mencari perlindungan, yang memicu kekhawatiran internasional bahwa langkah tersebut akan memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza.

“Situasi di Gaza merupakan bukti yang mengerikan dari kebuntuan dalam hubungan global,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Konferensi Keamanan Munich pada hari Jumat.

Ketika diminta untuk menjelaskan, juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan bahwa Guterres menunjuk pada kurangnya persatuan di Dewan Keamanan dan bagaimana kurangnya persatuan tersebut telah menghambat kemampuan PBB untuk memperbaiki situasi di seluruh dunia. (Mtr/hm22)

Related Articles

Latest Articles