AS Ajukan Anggaran Pertahanan Rp26 Kuadriliun, Mau Saingi China

Tentara AS bersiap untuk latihan gabungan dengan Korsel di Rodriguez Range, Pocheon, Korea Selatan, Rabu (22/3/2023). (Foto: SeongJoon Cho/Bloomberg)
Washington, MISTAR.ID – Amerika Serikat (AS) berencana memperkuat kemampuan militernya melalui pengembangan drone, robotika, dan kecerdasan buatan (AI) untuk menghadapi pesatnya modernisasi militer China.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menilai negara yang lambat mengembangkan teknologi peperangan otonom berisiko semakin tertinggal dari pesaingnya. Karena itu, ia menegaskan pentingnya permintaan anggaran pertahanan hampir 1,5 triliun dollar AS atau sekitar Rp26 kuadriliun.
Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth dalam diskusi panel pada pertemuan tahunan dan pameran Association of the United States Army (AUSA), Rabu (14/10/2026).
“Ini adalah momen yang berbeda. Kita menghadapi pesaing yang kekuatan militernya sebanding dengan kita dan sedang membangun kekuatan militer, mungkin dengan peningkatan terbesar dalam sejarah dunia,” kata Hegseth, merujuk secara tidak langsung pada modernisasi militer China, menurut South China Morning Post, Jumat (16/10/2026).
Ia memperingatkan bahwa keunggulan teknologi yang dibangun saat ini akan menentukan posisi kekuatan militer suatu negara dalam jangka panjang.
“Siapa pun yang unggul sekarang akan semakin jauh di depan. Siapa pun yang tertinggal sekarang akan semakin jauh tertinggal,” ujarnya.
Salah satu upaya yang menjadi perhatian Pentagon adalah Project Agincourt, inisiatif untuk mempercepat pengembangan drone dan kemampuan peperangan otonom.
Hegseth menyebut proyek tersebut sebagai tujuan akhir dari berbagai upaya pemerintahan Presiden Donald Trump dalam pengembangan teknologi militer sejak awal masa pemerintahannya.
Rencana yang diumumkan pada 30 September 2026 itu mencakup pembentukan Autonomous Warfare Command yang akan dipimpin perwira jenderal bintang empat paling lambat 1 Oktober 2027.
Program tersebut melanjutkan inisiatif Replicator yang dimulai pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden serta Drone Dominance Programme yang diluncurkan pada 2025.
Besarnya perhatian Pentagon terhadap teknologi otonom terlihat dari permintaan anggaran tahun fiskal 2027. Departemen Pertahanan AS mengajukan dana 54,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp979 triliun untuk Defence Autonomous Warfare Group (DAWG).
Angka tersebut melonjak hampir 24.000 persen dibandingkan alokasi tahun sebelumnya yang hanya 225,9 juta dollar AS atau sekitar Rp4 triliun.
DAWG dibentuk untuk mengoordinasikan, menguji, dan mengintegrasikan senjata otonom di berbagai ranah militer.
Berdasarkan dokumen Department of Defence Fiscal Year 2027 Mandatory Budget Overview yang diterbitkan pada April, sebanyak 53,6 miliar dollar AS dari anggaran tersebut berasal dari paket rekonsiliasi anggaran senilai 350 miliar dollar AS. Sementara itu, 1 miliar dollar AS lainnya berasal dari permintaan anggaran dasar.
Dari total alokasi DAWG, sebesar 39,2 miliar dollar AS disiapkan untuk investasi multitahun dalam pengadaan sistem otonom, peningkatan kapasitas produksi dalam negeri, dan pengembangan kemampuan militer canggih.
Adapun 14,4 miliar dollar AS dialokasikan untuk mengembangkan dan mengerahkan sistem penangkal pesawat nirawak.
Hegseth juga mengatakan AS berupaya memperkuat daya tangkal militernya, salah satunya melalui rencana pengadaan satu juta drone. (South China)





















































